Verifikasi Vs Falsifikasi Hipotesis

3 hours ago 6

Image Hafidz Ar Rizki

Pendidikan | 2026-08-20 00:34:49

Ilustrasi Hipotesis (Sumber: Pribadi).

Bagi para peneliti (baik pemula seperti mahasiswa, maupun berpengalaman seperti para dosen, guru besar, dan peneliti lainnya), istilah hipotesis tak lagi asing didengar. Kata yang sering disalahucap menjadi hipotesa ini memang menjadi asupan sehari-hari. Baik di draf artikel jurnal maupun proposal skripsi, kata ini acapkali ditemukan. Namun, apakah yang dimaksud dengan hipotesis itu? Apakah semua dugaan awal peneliti dapat disahkan sebagai hipotesis?

Menurut KBBI, hipotesis merupakan anggapan dasar, yaitu sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan. [1] Menurut Prof. Dr. Sugiyono, hipotesis merupakan jawaban/dugaan sementara terhadap rumusan masalah penelitian. [2] Sementara itu, Prof. Dr. Mahsun menerangkan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap suatu permasalahan yang hendak diteliti. [3]

Berdasarkan pengertian di atas, dapat kita tarik benang merah bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Lantas, benarkah semua dugaan sementara dapat dikatakan sebagai hipotesis? jawabannya tidak. Prof. Dr. Mahsun lebih lanjut menerangkan beberapa sifat yang harus ada pada hipotesis yaitu harus dapat diuji, dan juga masuk akal (reasonable explanation).

Analogi Senter

Untuk memudahkan pemahaman mengenai hipotesis, Neil A. Campbell memberikan sebuah contoh menarik dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam seri buku Biologinya, (edisi kedelapan jilid 1 dalam versi bahasa Indonesia), Campbell memberi contoh kasus sebuah senter yang mati pada suatu perkemahan. Kasus senter mati ini merupakan contoh paling sederhana dalam memahami konsep hipotesis. Kasus tersebut tertera di bawah ini.

Dalam menghadapi suatu permasalahan, kita akan memulainya dengan sebuah pengamatan. Pengamatan tersebut akan mengantarkan kita pada suatu (atau lebih) pertanyaan. Ketika senter yang kita gunakan tiba-tiba mati, tentu kita akan mengamati benda ‘pencahaya’ tersebut, kemudian bertanya, “kenapa senter ini tiba-tiba mati?”, “apa yang salah dari senter ini?” dan semacamnya.

Dari pertanyaan tersebut, muncullah dugaan-dugaan dasar yang kita utarakan untuk memecahkan penyebab matinya senter tersebut. Dugaan inilah yang disebut sebagai hipotesis. Sebagai contoh, Campbell menjabarkan dua hipotesis dari permasalahan tersebut. Hipotesis pertama, senter tersebut mati karena habis baterai; dan hipotesis kedua, senter tersebut mati karena lampunya yang putus. Kedua hipotesis itu akan bermuara pada sebuah asumsi: mengganti baterai/lampu akan memperbaiki senter seperti sediakala. [4]

Setelah mengemukakan hipotesis, untuk membuktikan asumsi di atas, tidak ada cara lain selain mengujinya secara langsung. Sampai kapan pun, kita tidak akan tahu penyebab matinya senter tadi jika tidak menguji kedua hipotesis di atas. Kita coba satu persatu, dimulai dari mengganti baterai senter, yang ternyata tidak mengubah apa pun (nihil). Selanjutnya, kita mencoba mengganti bola lampu senter tersebut. Setelah diganti, akhirnya senter tersebut kembali menyala.

Verifikasi vs Falsifikasi

Analogi senter di atas memberi gambaran sederhana mengenai konsep hipotesis itu sendiri. Tanpa kita sadari, dalam kehidupan sehari-hari pun sebenarnya kita berhipotesis mengenai banyak hal. Dimulai dari pengamatan mengenai masalah, kemudian pengajuan hipotesis, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis, hingga akhirnya pembuktian terhadap hipotesis itu sendiri.

Akan tetapi, sebagaimana yang telah diterakan di atas, tidak semua dugaan awal dapat disebut sebagai hipotesis. Mari kita bayangkan dugaan ketiga mengenai matinya senter tersebut. Katakanlah bahwa senter tersebut tiba-tiba mati di dalam perkemahan, lantas semena-mena kita menganggap bahwa ada suatu kekuatan mistis, makhluk tak kasatmata yang menyebabkan senter tersebut mati. Selain tak dapat diuji, dugaan ini juga tidak masuk akal. Maka, tidak sahih disebut sebagai hipotesis.

Menurut Karl Popper, selain dapat diuji, hipotesis juga harus dapat difalsifikasi (dibuktikan kesalahannya). Konsep ini dinamakan Falsifiability of Hypotheses. Sebagaimana yang termaktub dalam The Logic of Scientific Discovery Hlm. 18 di bawah ini. [5]

“But I shall certainly admit a system as empirical or scientific only if it is capable of being tested by experience it must be possible for an empirical scientific system to be refuted by experience.”

(Namun, saya hanya akan mengakui suatu sistem sebagai empiris atau ilmiah jika ia dapat diuji oleh pengalaman harus ada kemungkinan bagi suatu sistem ilmiah empiris untuk digugurkan oleh pengalaman).

Tabel Perbandingan Dugaan, Hipotesis, dan Non-Hipotesis (Adaptasi dari Biologi Campbell).

Perhatikan tabel perbandingan dan kutipan di atas, mari kita kaitkan dengan ketiga hipotesis mengenai senter tadi. Hipotesis pertama dan kedua (baterai habis dan lampu yang rusak) dapat diuji, juga dapat digugurkan/dibuktikan kesalahannya. Maksudnya, setelah melalui pengujian berupa penggantian baterai dan bola lampu, dapat diketahui bahwa ada salah satu dugaan yang salah, yaitu baterai senter yang habis. Sementara itu, dugaan ketiga tidak dapat dikatakan hipotesis, karena keberadaan makhluk halus tidak bisa diuji, tidak bisa dibuktikan kebenarannya, dan juga tidak bisa dibuktikan kesalahannya. []

Daftar Pustaka

[1] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Hipotesis,” Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Diakses: 19 Agustus 2026. [Daring]. Tersedia pada: https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/hipotesis

[2] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 7 ed. Bandung, 2025.

[3] Mahsun, Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi, Metode, dan Tekniknya. dalam 3. Depok: Rajawali Pers, 2019.

[4] Neil A. Campbell dkk., Biologi, 8 ed., vol. 1. Penerbit Erlangga, 2008.

[5] Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge, 2005.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |