Dimensi Agama dalam Selebrasi Perayaan Kemerdekaan Bangsa Indonesia

3 hours ago 6

Image Faiz Badridduja

Edukasi | 2026-08-19 20:51:48

Setiap tahun, pada tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Perayaan ini identik dengan upacara bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan meriah lainnya. Namun, di balik semaraknya acara, terdapat sebuah dimensi religius yang sering kali luput dari perhatian. Kemerdekaan Indonesia bukanlah semata-mata hasil perjuangan fisik, melainkan juga sebuah anugerah ilahi yang patut disyukuri.

Source; https://pegadaian.co.id/artikel/inspirasi/makna-kemerdekaan-indonesia

Para pendiri bangsa kita, seperti Soekarno dan Hatta, menyadari betul bahwa kemerdekaan tidak dapat dicapai hanya dengan kekuatan manusia. Mereka percaya adanya campur tangan Tuhan dalam setiap langkah perjuangan. Hal ini tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga yang berbunyi, "Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." Kalimat ini secara tegas menegaskan bahwa kemerdekaan adalah berkat dan rahmat dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Tahukan kalian bahwa Kemerdekaan Indonesia yakni 17 Agustus 1945 itu terjadi pada bulan Ramadan, tepatnya 09 Ramadhan 1364 H. Sejarah ini mirip dengan yang terjadi ketika Islam permulaan di Hijaz. Rasulullah Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah dan pada bulan Ramadhan tahun selanjutnya terjadi Perang Badar antara Kaum Muslimin dari Madinah dan Kaum Kafir Quraisy dari Mekkah. Perang ini terjadi di Lembah Badar yang mana Kaum Muslimin meraih kemenangan yang gemilang pada Bulan Ramadhan itu meski jumlahnya lebih sedikit dari musuh-musuhnya.

Jika kita menggunakan kepekaan menerjemahkan dan menginterpretasikannya, maka tiada lain dan tiada bukan bahwa Kemenangan Bangsa Indonesia atas Kaum Penjajah merupakan sama-sama berkah rahmat Allah yang maha kuasa sebagaimana hal itu dianugerahkan kepada kaum Muslimin dalam Perang Badar.

Kemenangan dan kemerdekaan itu bukan tanpa pengorbanan, jika Rasulullah sempat terusir ke Madinah dan beberapa sahabatnya wafat dalam perang Badar itu, maka banyak pula pengorbanan yang sudah dilakukan bangsa Indonesia seperti kehilangan wilayah, kehilangan harta benda, para pahlawan yang wafat dan gugur dalam berbagai konfrontasi militer seperti agresi militer I dan II, Perang Jawa, Perang Paderi, dan perang-perang lain yang terjadi di nusantara ini.

Oleh karena itu, Perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen refleksi dan rasa syukur. Sikap religius ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, tidak hanya melalui ritual keagamaan formal. Misalnya, dengan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Bukankah Indonesia memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”? itu maknanya Persatuan adalah cerminan dari ajaran agama mana pun yang mengajarkan kasih sayang dan kerukunan. Ketika kita hidup rukun, tanpa memandang perbedaan suku, agama, dan ras, kita sedang menjalankan perintah Tuhan untuk saling mengasihi.

Dimensi religius pertama berkaitan dengan sejarah, maka yang kedua berhubungan erat dengan kesadaran kolektif yang diwariskan dari para pahlawan muslim bangsa Indonesia. Jika kita menyadari betul soal konsistensi yang sudah teruji, mengenai keistiqomahan mereka yang sudah loyal kepada Negara dan Agama. Maka itu pula yang harus kita lakukan sebagai muslim, kita mesti mengawasi bahwa dalam berbagai bentuk perayaan kemerdekaan, kita pastikan bahwa segalanya harus sesuai dengan yang digariskan oleh Tuhan. Jangan sampai ada bentuk-bentuk baru cara mengenang jasa pahlawan malah dengan dosa dan maksiat, perbuatan-perbuatan yang terlarang seperti pesta, mabuk, minum-minum yang diharamkan atau mengonsumsi narkoba.

Lalu apakah sudah dicapai oleh Para Pahlawan Muslim di Indonesia selain kemerdekaan Indonesia? Jika kita merenung lebih dalam terhadap firman Allah QS Fusshilat;30 bahwa sungguh orang-orang yang berkata Tuhan Kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka para malaikat akan turun dan menyatakan pada mereka Janganlah kamu takut dan merasa sedih, lebih-lebih bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan.

Maknanya adalah Istiqamah (Meneguhkan Pendirian) dalam Bertauhid, Istiqamah dalam berjuang menegakkan Agama, Memerdekakan Bangsa Indonesia, sudah dipastikan setelah wafatnya pun mereka tidak merasa takut dan bersedih hati, malah keadaan mereka tenang karena telah dijanjikan surga. Sadarlah akhirnya kita atas fatwa Hadartusy-Syaikh Hasyim Asy’ari tentang Resolusi Jihad. Ketika Bung Karno bertanya mengenai apa hukumnya membela tanah air? Bukan hanya membela Allah dan membela Rasulullah serta membela Agama Islam, jawaban tegas K.H. Hasyim Asy’ari adalah siapa saja yang berjuang mempertahankan Negara dan Bangsa Indonesia itu hukumnya adalah Wajib lalu jika kemudian wafat dalam pertempuran membela Indonesia itu dihukumi sebagai Mati Syahid.

Inilah yang menjadi landasan babak baru perjuangan dalam 10 November peristiwa di Surabaya, ketika kaum santri, masyarakat dan semua elemen bangsa Indonesia melawan Penjajah. Sudah sepantasnya bahwa hari dan tangga itu dinyatakan sebagai hari pahlawan nasional.

Dimensi Religius yang ketiga ialah berkaitan dengan simbol Nasional, simbol-simbol negara kita pun memiliki makna religius yang mendalam. Burung Garuda, lambang negara, merupakan representasi kekuatan dan keagungan. Di dadanya terdapat perisai yang melambangkan Pancasila, yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan bahwa negara ini didirikan di atas landasan keimanan kepada Tuhan. Begitu pula dengan bendera Merah Putih, yang warna merahnya melambangkan keberanian dan putihnya melambangkan kesucian. Kombinasi ini tidak hanya mencerminkan semangat perjuangan, tetapi juga spiritualitas yang mendasari perjuangan tersebut.

Dalam merayakan kemerdekaan, marilah kita tidak hanya berfokus pada kemeriahan semata. Mari kita kembali merenungi makna terdalamnya. Kemerdekaan adalah anugerah Tuhan, dan tugas kita adalah menjaganya dengan penuh tanggung jawab, persatuan, dan rasa syukur. Dengan demikian, perayaan kemerdekaan akan menjadi lebih dari sekadar perayaan, melainkan sebuah ritual spiritual yang menguatkan keimanan kita kepada Tuhan dan kecintaan kita kepada bangsa.

Selain itu, mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif juga merupakan bentuk syukur. Para pahlawan telah berkorban demi masa depan bangsa. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita untuk melanjutkan perjuangan mereka dengan cara yang lebih modern, seperti belajar dengan giat, bekerja keras, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Semua tindakan ini dapat dianggap sebagai ibadah, sebuah pengabdian kepada Tuhan melalui pengabdian kepada sesama manusia dan bangsa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |