Gen Z dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan

3 hours ago 7

Image Arkan Parvaiz

Pendidikan dan Literasi | 2026-08-20 08:35:08

Oleh Arkan Shaquille Parvaiz

Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Labschool Ciracas

Selama ini Gen Z seringkali dianggap sebagai generasi yang hanya bisa menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel, memiliki semangat juang rendah, sulit konsentrasi, mudah menyerah, loyalitas kerja rendah. Intinya, generasi rebahan.

Jika semua tudingan itu benar, maka di tengah berbagai permasalahan manusia hari ini dan ancaman keberlanjutan bumi, Gen Z tentu hanya akan menjadi beban dalam upaya mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Sebelum membahas lebih jauh topik ini, mari kita samakan dulu persepsi tentang siapakah yang disebut dengan Gen Z?

Sesuai dengan pengelompokan yang paling lazim digunakan, Gen Z adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 1997 – 2012, artinya pada 2026 berusia antara 14-29 tahun. Kakek Nenek dari Gen Z umumnya adalah kelompok Baby Boomers, yaitu mereka yang lahir di antara tahun 1946–1964, atau memiliki usia 62–80 tahun. Orang Tua mereka adalah Gen X, yaitu mereka yang lahir di antara tahun 1965–1980, atau berusia 46–61 tahun saat ini. Sebelum Gen Z ada Gen Y, yaitu kelompok usia 30-45 tahun, atau yang lahir di kisaran tahun 1981–1996. Tetapi Gen Z bukanlah yang paling junior. Setelah Gen Z masih ada adik-adik mereka, yaitu Gen Alpha yang lahir dari tahun 2014-2025, atau saat ini berusia 1-13 tahun.

Dengan mengacu pada definisi tersebut, ini berarti ke depannya Gen Z akan segera menggantikan peran Gen X dan Gen Y. Karena itulah, Gen Z sesungguhnya memiliki peran strategis dalam mengimplementasikan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Pertanyaannya, apakah Gen Z mampu mengemban tugas tersebut? Apakah Gen Z betul-betul menjadi generasi yang tidak bisa diharapkan menjadi pemimpin di masa depan?

Di luar berbagai cap negatif tadi, Gen Z sesungguhnya mempunyai banyak keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Hal ini seharusnya bisa menjadi potensi untuk menjadi motor penggerak dalam merealisasikan Tujuang Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Mengapa SDGs? Di tengah ancaman pemanasan global dan dampak perubahan iklim, kesadaran penduduk dunia untuk memelihara bumi yang lestari dan berkelanjutan memang terus meningkat dan meluas. Dan, SDGs menjadi rencana aksi yang sudah ditetapkan PBB untuk dijalankan oleh seluruh warga bumi.

Sebagai digital native, Gen Z merupakan kelompok generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, keterbukaan informasi, serta perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung sangat cepat. Dalam beberapa tahun mendatang, Gen Z akan semakin mengambil peran penting sebagai tenaga kerja, pelaku usaha, pemimpin komunitas, pengambil kebijakan, maupun warga negara yang menentukan arah pembangunan.

Karakteristik Gen Z yang memiliki kemampuan cepat beradaptasi dengan teknologi, akses terhadap informasi, kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan, serta kemampuan membangun jejaring dapat menjadi modal penting dalam mendorong pencapaian SDGs.

Berbicara tentang SDGs, dari 17 agenda tujuan pembangunan berkelanjutan, peran Gen Z sesungguhnya sangat terbuka di hampir semua tujuan, mulai dari Tujuan 1 – Tanpa Kemiskinan, Tujuan 2 – Tanpa Kelaparan, sampai ke Tujuan 17 – Melakukan Kemitraan untuk mencapai tujuan-tujuan SDG. Dengan membangkitkan semangat berbagi, Gen Z mampu memperjuangkan penurunan kemiskinan dan kelaparan.

Tetapi, kalau ditelaah lebih mendalam, agar dapat menjadi aksi nyata yang konkret, setidaknya ada 4 SDG yang paling relevan untuk Gen Z.

Pertama, Tujuan 4 SDG - Pendidikan Berkualitas.

Mayoritas Gen Z saat ini tentu masih bersekolah atau duduk di bangku kuliah. Hanya dengan belajar keras dan terus meningkatkan kapasitasnya, sesuatu yang memang sudah menjadi kewajibannya, pelajar dan mahasiswa telah berperan nyata dalam meraih Tujuan 4 SDG.

Aksi nyata yang dilakukan tentu beragam, mulai dari berjuang maksimal untuk meraih prestasi akademik hingga meningkatkan literasi digital di tengah semakin pesatnya implementasi teknologi Kecerdasan Artifisial.

Kedua, Tujuan 12 – Konsumsi dan Produksi yang bertanggung jawab.

Ini adalah salah satu tujuan SDG yang paling mudah dilakukan sebagai aksi nyata. Jajan seperlunya, mengurangi sampah makanan, diet plastik, ini semua adalah langkah konkret yang sangat sederhana dilakukan oleh Gen Z untuk menjaga keberlanjutan bumi.

Ketiga, Tujuan 13 SDG, Penanganan Perubahan Iklim.

Ini merupakan agenda yang sangat nyata dilakukan oleh Gen Z. Berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, mematikan AC dan perangkat elektronik lain yang tidak dipakai, memilah sampah, mempraktikkan prinsip 3R: Reuse, Reduce, Recycle. Hal-hal yang sangat sederhana dan menyangkut keseharian Gen Z.

Keempat, Tujuan 16 SDG, Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Inisiatif ini juga sejalan dengan keseharian Gen Z agar dapat menjadi generasi muda hebat. Tidak melakukan tawuran, bullying, tidak menyebarluaskan hoax, belajar berorganisasi dan menghargai perbedaan, menggunakan media sosial secara bijak. Hal-hal ini juga menjadi keseharian dari kehidupan Gen Z.

Jadi, tunggu apa lagi? Bertindak mulai sekarang juga. Buktikan bahwa Gen Z punya peran penting untuk mewujudkan agenda-agenda Pembangunan Berkelanjutan. (*)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |