Bengong Itu tidak Gratis

3 hours ago 5

Image Margie A.H

Gaya Hidup | 2026-08-19 22:14:49

 

"Jangan bengong!”

Kalimat ini mungkin pernah menjadi soundtrack masa kecil kita.

Duduk diam ditegur. Menatap ke luar jendela ditegur. Melamun terlalu lama, apalagi. Dulu bahkan ada yang menakut-nakuti, “Jangan melamun, nanti kesambet setan.”

Entah sejak kapan setan dianggap punya hobi menyambar orang yang sedang bengong. Yang jelas, nasihat itu membuat kita tumbuh dengan keyakinan bahwa diam tanpa melakukan apa-apa berarti membuang waktu.

Padahal, menurut KBBI, melamun berarti berpikir yang bukan-bukan, termenung, atau berkhayal. Tidak ada kata “malas” di dalamnya.

Dalam psikologi dikenal istilah mind-wandering, yaitu ketika pikiran tidak sepenuhnya tertuju pada aktivitas yang sedang dilakukan dan mengembara ke hal lain. Melamun memang tidak persis sama dengan mind-wandering, tetapi keduanya memiliki irisan.

Dan ternyata, bengong tidak gratis.

Ada pekerjaan yang berlangsung di dalam kepala.

Penelitian psikolog Benjamin Baird dan koleganya menunjukkan bahwa kondisi yang memungkinkan pikiran mengembara dapat membantu proses creative incubation, yaitu ketika gagasan terus diproses setelah seseorang berhenti sejenak dari persoalan yang sedang dipikirkannya. Penelitian lain menunjukkan mind-wandering juga berkaitan dengan membayangkan dan merencanakan masa depan.

Jadi, ketika pikiran terlihat sedang jalan-jalan, belum tentu ia sedang libur.

Saya melihatnya sendiri pada putra kami.

Suatu hari ia sedang duduk diam. Tidak membaca. Tidak mengerjakan soal. Tidak berbicara dengan siapa pun.

Bengong.

Tiba-tiba ia nyeletuk,

Bun, Ramadan 2030 itu nanti dua kali lho”

Saya menoleh.

“Kok bisa?”

Ternyata, dalam bengongnya ia sedang menghitung. Ia menghubungkan kalender Hijriah dengan kalender Masehi dan membayangkan pergeseran Ramadan dari tahun ke tahun.

Dan ucapannya memang masuk akal. Karena tahun Hijriah lebih pendek sekitar 10–12 hari dibandingkan tahun Masehi, Ramadan terus bergeser. Pada 2030, Ramadan diperkirakan berlangsung dua kali dalam satu tahun Masehi, sekitar awal Januari dan kembali pada akhir Desember.

Dari luar, seorang anak sedang bengong.

Di dalam kepalanya ada kalender, hitungan, hubungan sebab-akibat, dan prediksi.

Bengong, tetapi ada matematika.

Di waktu lain, ia bisa duduk sambil melihat lantai. Lalu menghitung, membayangkan ukuran, bentuk, posisi, hingga tata letak sebuah ruangan. Dari situ muncul berbagai gagasan tentang desain rumah.

Kalau dilihat sekilas: bengong.

Kalau tahu apa yang terjadi di kepalanya: sedang merancang.

Saya pun mulai berpikir, jangan-jangan kita terlalu cepat menilai seseorang hanya dari apa yang tampak.

Bukankah kita sendiri sering mengalami hal serupa?

Ide tulisan tiba-tiba muncul ketika sedang mandi. Solusi sebuah masalah datang ketika sedang menyapu. Tiba-tiba menemukan jawaban setelah berhenti memikirkannya berjam-jam.

Mungkin bukan karena idenya muncul begitu saja.

Mungkin otak sedang mengolah sesuatu yang sebelumnya kita pikirkan.

Tentu, bukan berarti semua bengong itu bermanfaat. Mind-wandering juga dapat mengganggu konsentrasi dan kinerja, terutama ketika kita sedang melakukan sesuatu yang membutuhkan perhatian penuh.

Bengong saat mengendarai motor bukan creative incubation.

Itu namanya cari masalah.

Namun, di tengah kehidupan yang setiap jedanya segera diisi ponsel, mungkin kita perlu memberi sedikit ruang untuk pikiran mengembara.

Lima menit menunggu, buka media sosial.

Bosan, buka layar.

Anak termenung, segera dipanggil.

“Jangan bengong!”

Padahal, mungkin sesekali kita perlu membiarkan otak berjalan-jalan tanpa itinerary.

Menatap awan.

Melihat lantai.

Minum kopi.

Diam.

Bengong.

Sebab kita tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di balik tatapan kosong seseorang.

Mungkin sedang mengingat.

Mungkin menghitung.

Mungkin merencanakan.

Mungkin mencari solusi.

Atau mungkin sedang melahirkan sebuah ide.

Jadi, lain kali ada yang berkata,

“Kamu bengong, ya?”

Jawab saja:

Iya. Lagi kerja. Kantornya di kepala.”

Sebab ternyata,

Bengong tidak gratis.

Tubuhnya diam, pikirannya lembur.

Referensi ilmiah:

Baird, B., Smallwood, J., & Schooler, J. W. (2011). Back to the future: Autobiographical planning and the functionality of mind-wandering. Consciousness and Cognition, 20(4), 1604–1611.

Baird, B., Smallwood, J., Mrazek, M. D., et al. (2012). Inspired by distraction: Mind wandering facilitates creative incubation. Psychological Science, 23(10), 1117–1122.

Mooneyham, B. W., & Schooler, J. W. (2013). The costs and benefits of mind-wandering: A review. Canadian Journal of Experimental Psychology, 67(1), 11–18.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |