Dampingi Presiden ke AS, Bahlil Bidik Investasi dan Transfer Teknologi Energi

4 hours ago 4

Ketua Umum DPP Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (8/9/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON, D.C. — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Washington, D.C., Amerika Serikat. Agenda utama kunjungan mencakup pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperkuat hubungan kedua negara dan membuka peluang kerja sama strategis.

Kehadiran Menteri ESDM menjadi bagian dari diplomasi energi Indonesia yang diarahkan pada penguatan ketahanan energi, percepatan hilirisasi, serta peningkatan investasi guna mendukung pertumbuhan industri nasional. “Diplomasi yang dilakukan Presiden merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global. Di sektor energi, kami memastikan setiap peluang kerja sama mendukung ketahanan energi dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian nasional,” kata Bahlil, dikutip Kamis (19/2/2026).

Dalam rangkaian agenda tersebut, pemerintah juga melakukan komunikasi strategis terkait penguatan kerja sama di sektor energi dan sumber daya mineral. Seluruh penjajakan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang.

Bahlil menyampaikan kolaborasi yang dibangun menitikberatkan pada peningkatan investasi, pengembangan teknologi, serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Pendekatan ini ditempuh agar kemitraan yang terjalin memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri. “Kami mendorong kolaborasi yang berorientasi pada peningkatan investasi, transfer teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Prinsipnya, kemitraan harus saling menguntungkan dan tetap berpijak pada kepentingan nasional,” ujarnya.

Langkah diplomasi ini selaras dengan komitmen Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui penguatan bauran energi yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan. “Ketahanan dan kemandirian energi merupakan fondasi utama pembangunan. Karena itu, setiap langkah diplomasi energi harus memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan produktivitas nasional,” tegas Bahlil.

Upaya diplomasi energi tersebut diharapkan memperluas akses investasi strategis sekaligus mempercepat transformasi sektor energi nasional. Pemerintah menempatkan kerja sama internasional sebagai instrumen untuk memperkuat daya saing industri dan menjaga stabilitas ekonomi.

Read Entire Article
Politics | | | |