Watak Manusia di Seluruh Dunia dan Perselisihan Mereka Menurut Buya Hamka

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di masa lampau, ketika para Rasul datang membawa syariat dan ajaran, sebagian manusia menerimanya dengan patuh, sementara sebagian lainnya menolak. Seberapa pun teguh kebenaran yang disampaikan dan sekuat apapun alasannya, selalu saja ada pihak yang memilih untuk membangkang.

Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah yang akrab disapa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menerangkan bahwa pikiran manusia tidak sama. Rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad SAW, beliau membawa dakwah. Ada yang menerima dakwah Nabi Muhammad SAW tapi ada banyak juga yang membantah.

Maka keadaan manusia itu sejak mereka ada di dunia ini, sampai kiamat kelak, tabiat mereka adalah satu, yakni perangai sama, kelakuan sama (wataknya sama).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا كَانَ النَّاسُ اِلَّآ اُمَّةً وَّاحِدَةً فَاخْتَلَفُوْاۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيْمَا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

Wa mā kānan-nāsu illā ummataw wāḥidatan fakhtalafū, wa lau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum fīmā fīhi yakhtalifūn(a).

Manusia itu dahulunya hanya umat yang satu, lalu mereka berselisih. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah di antara mereka telah diberi keputusan (azab di dunia) tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS Yunus Ayat 19)

Pada hakikatnya, walaupun berbeda warna kulit, berbeda bahasa, tinggal di benua yang berbeda, namun manusia itu adalah satu. Artinya pada pokok dasar, seluruh manusia itu sejak dahulu suka yang baik, benci kepada yang buruk. Pada pokok asal juga, bahwasanya manusia itu adalah percaya kepada adanya Maha Pencipta atas alam ini.

Tetapi, "Lalu mereka (manusia) berselisih." (QS Yunus Ayat 19)

Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menuliskan, setelah pergaulan manusia menjadi luas, setelah pikiran manusia diadu satu sama lain, dan setelah terjadi perebutan kepentingan, maka timbullah perselisihan.

Kadang-kadang hanya perselisihan pendapat, yang tidak membawa bahaya. Tetapi kadang-kadang perselisihan yang membawa kepada permusuhan, karena takut dirugikan. Di antara yang diperselisihkan itu adalah tentang nilai-nilai kebenaran.

Sebab itu, sebagaimana telah ditegaskan Tuhan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 213, diutus Tuhanlah para Rasul untuk memberi petunjuk tentang apa yang baik dan apa yang buruk, sehingga perselisihan itu dapat dicarikan jalan damai, yaitu kembali kepada kebenaran yang sejati, yang memang semua manusia mencarinya.

Read Entire Article
Politics | | | |