Dialog Raja Sufi dan Seekor Anjing, Belajar dari Makhluk yang Dianggap Hina

2 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sebuah kisah raja para sufi mengajarkan bahwa kebersihan sejati tidak selalu tampak pada lahiriah. Dialog antara Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al-Bustami dan seekor anjing di sebuah jalan sunyi justru membuka tabir tentang kesombongan tersembunyi, dan cara Allah menegur hamba-Nya melalui apapun yang Dia kehendaki.

Diriwayatkan, suatu hari Abu Yazid sedang menyusuri sebuah jalan ketika seekor anjing berlari-lari di sampingnya. Melihat hal ini, Abu Yazid segera mengangkat jubahnya.

Namun anjing itu berkata kepada Abu Yazid, “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Seandainya tubuhku basah, engkau cukup mencucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi, dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera.”

Abu Yazid menjawab, “Engkau kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Marilah kita bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih.”

Namun si anjing menjawab, “Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku. Semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu."

"Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para sufi. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang, sedangkan engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari,” ujar anjing itu kepada Abu Yazid.

Abu Yazid berkata, “Aku tidak pantas berjalan bersama seekor anjing! Bagaimana mungkin aku bisa berjalan bersama Dia Yang Abadi dan Kekal?”

"Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia (manusia) di antara makhluk-Nya melalui yang terhina di antara semuanya," ujar Abu Yazid. Demikian dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya. 

Dalam riwayat lain, pada suatu hari, Abu Yazid berjalan bersama beberapa muridnya. Jalan yang mereka lalui sangat sempit. Dari arah berlawanan datang seekor anjing. Abu Yazid pun menyingkir ke tepi jalan untuk memberi jalan kepada binatang itu.

Salah seorang murid merasa heran dan berkata, “Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas seluruh makhluk-Nya. Abu Yazid adalah raja di antara para sufi. Namun dengan kedudukan setinggi itu, mengapa beliau dan para muridnya justru memberi jalan kepada seekor anjing? Apakah pantas perbuatan seperti itu?”

Abu Yazid menjawab dengan tenang, “Wahai anak muda, anjing tadi seakan berkata kepadaku secara diam-diam: Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian, sehingga aku mengenakan kulit anjing, sedangkan engkau memakai jubah kehormatan sebagai raja di antara para sufi?”

“Itulah yang terlintas dalam hatiku, dan karena itulah aku memberinya jalan,” kata Abu Yazid kepada muridnya.

Read Entire Article
Politics | | | |