Lewat Proyek Mempawah, Indonesia Bisa Hemat Devisa hingga Rp 52 Triliun per Tahun

2 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengembangan proyek hilirisasi bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi kunci bagi Indonesia untuk menekan ketergantungan impor aluminium dan alumina sekaligus menghemat devisa negara secara signifikan. Melalui proyek ini, Indonesia diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga Rp 52 triliun per tahun, seiring meningkatnya kapasitas produksi aluminium dan alumina dari dalam negeri.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan, proyek Mempawah menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian industri aluminium nasional, mulai dari hulu hingga hilir.

“Melalui proyek hilirisasi ini, kita memastikan bahwa bauksit yang ditambang di dalam negeri, khususnya di Kalimantan Barat, diproses, dimurnikan, dan diubah menjadi produk bernilai tinggi di Indonesia. Ini menjadi langkah strategis untuk mengurangi impor sekaligus memperkuat cadangan devisa,” ujar Maroef di Mempawah, Jumat (6/2/2026).

Saat ini, kebutuhan aluminium nasional terus meningkat seiring pertumbuhan sektor manufaktur, konstruksi, transportasi, energi terbarukan, hingga industri kendaraan listrik. Konsumsi aluminium domestik diperkirakan telah menembus lebih dari 1 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi nasional masih terbatas, sehingga sebagian besar kebutuhan dipenuhi melalui impor.

Di sisi lain, kebutuhan alumina sebagai bahan baku utama smelter aluminium nasional juga masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Dengan beroperasinya Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I dan II di Mempawah, total kapasitas produksi alumina domestik akan mencapai 2 juta ton per tahun, sehingga mampu menutup sebagian besar kebutuhan dalam negeri dan menekan impor secara signifikan.

Proyek Mempawah juga didukung oleh cadangan dan sumber daya bauksit nasional yang melimpah. Berdasarkan data PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), sumber daya bauksit di wilayah operasional Mempawah dan Kendawangan mencapai 329,55 juta wet metric ton (MWMT), dengan cadangan sekitar 69,09 MWMT. Ketersediaan sumber daya ini menjadi basis kuat bagi keberlanjutan industri aluminium nasional dalam jangka panjang.

Maroef menegaskan, tanpa hilirisasi aluminium, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan sebagai produsen. Oleh karena itu, pembangunan rantai industri aluminium terintegrasi menjadi bagian dari strategi fundamental pembangunan industri nasional.

“Groundbreaking di Mempawah hari ini menandai terciptanya rantai industri yang utuh untuk industri aluminium di Indonesia. Fasilitas yang kita bangun bukan hanya fasilitas produksi, tetapi ekosistem industri aluminium nasional yang terintegrasi, mencakup pasokan bahan baku, energi, infrastruktur, hingga pengembangan sumber daya manusia,” kata Maroef.

Dalam proyek ini, bauksit dari tambang ANTAM di Kalimantan Barat diolah menjadi alumina melalui fasilitas SGAR, kemudian diproses lebih lanjut menjadi aluminium di smelter berkapasitas 600.000 ton per tahun. Produk aluminium tersebut akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, mulai dari konstruksi, otomotif, kemasan, hingga sektor energi dan pertahanan.

Selain menekan impor, proyek ini juga diproyeksikan memberikan dampak langsung terhadap penguatan cadangan devisa nasional. Saat smelter aluminium baru beroperasi penuh, cadangan devisa diperkirakan meningkat hingga 394 persen, dari sekitar Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun.

“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara di sektor mineral demi peradaban masa depan Indonesia,” tegas Maroef.

Lebih lanjut, hilirisasi bauksit hingga aluminium mampu menghasilkan nilai tambah lebih dari 70 kali lipat, dari harga bauksit mentah sekitar dolar AS 40 per metrik ton, meningkat menjadi dolar AS 400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak hingga dolar AS 2.800–3.000 per metrik ton saat menjadi aluminium.

Dengan penguatan rantai pasok aluminium nasional ini, Indonesia diharapkan mampu memperbaiki neraca perdagangan, meningkatkan ketahanan industri, serta memperkokoh posisi dalam rantai pasok global aluminium.

Read Entire Article
Politics | | | |