Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan laptop di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (14/11/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Wali Kota Cimahi Ngatiyana menyebutkan, angka putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan di wilayahnya mencapai 776 orang yang terdata hingga Desember 2025. Pemkot Cimahi pun sudah menyiapkan langkah agar ratusan warganya itu tetap bisa mengakses pendidikan.
"Yang perlu kami sampaikan kepada masyarakat bahwa setelah hasil dari pendeteksian, identifikasi di masyarakat ada sekitar 776 orang yang putus sekolah," kata Ngatiyana di Pemkot Cimahi, Senin (16/2/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 525 orang diklaimnya sudah melanjutkan pendidikan di sekolah non formal yakni Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Meski begitu, Ngatiyana mengakui masih ada sekitar 200 anak yang hingga kini belum melanjutkan pendidikan. Pemerintah, kata dia, terus mendorong agar sisa anak putus sekolah tersebut dapat kembali bersekolah melalui berbagai jalur yang tersedia.
"Artinya masih ada beberapa orang yang belum melanjutkan sekolah. Mudah-mudahan nanti dengan kesadaran itu yang sisanya sekitar 200 orang itu bisa melanjutkan sekolah mengejar paket A, B, maupun C," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Nana Suyatna menambahkan, jumlah anak putus sekolah itu didapatkan berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan bersama aparat kewilayahan. Hasinya menunjukan masih ada 700 lebih anak yang tidak melanjutkan pendidikan di sekolah formal.
"Data itu kita kasihkan ke PKBM, kita petakan per kelurahan ada visit ke lokasi yang anak-anak tersebut supaya mereka mau untuk bersekolah kembali melalui paket kesetaraan A, B, dan C," kata Nana.
Anak tidak sekolah itu umumnya berasal dari jenjang transisi, yakni lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP atau lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA. Ada beragam faktor yang menyebabkan ratusan anak itu memutuskan tidak melanjutkan sekolah formal. Seperti ekonomi dan ingin melanjutkan ke pondok pesantren.
"Faktornya bukan hanya faktor ekonomi, tapi juga ada faktor masalah psikologi yang paling agak berat itu. Misalkan mereka sudah bekerja, enggak mau sekolah lagi, atau enggak mau sekolah, atau mungkin faktor keluarga dari broken home, ada yang tertarik ke pesantren," ujar Nana.

3 hours ago
6














































