Maruf Amin: KH Wahab Hasbullah Perumus Harmoni Islam dan Negara

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden RI ke-13 Ma’ruf Amin menegaskan bahwa hubungan harmonis antara Islam dan negara yang menjadi fondasi Indonesia hari ini tidak lahir secara kebetulan. Fondasi itu, menurutnya, telah dirumuskan sejak awal oleh para ulama pendiri bangsa, salah satunya KH Abdul Wahab Hasbullah.

Pandangan tersebut disampaikan Ma’ruf Amin dalam orasinya pada acara Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah dan Sarasehan Alim Ulama yang digelar di Aula HM Rasyidi, Gedung Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kyai Wahab Foundation (KWF) bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) Jabodetabek dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Dalam pandangan Ma’ruf Amin, Mbah Wahab, sapaan KH Abdul Wahab Hasbullah, bukan hanya ulama besar Nahdlatul Ulama, melainkan pemikir strategis yang merumuskan titik temu antara nilai-nilai keislaman dan realitas kenegaraan Indonesia. Visi itu menjadi pilar penting yang membuat Indonesia tetap utuh sebagai negara bangsa yang berlandaskan Pancasila sekaligus menghormati peran agama dalam kehidupan publik.

Ia menilai, pemikiran Mbah Wahab relevan hingga kini, terutama di tengah tantangan global yang sering mempertentangkan agama dan negara. Indonesia, kata Ma’ruf, justru berdiri di atas tradisi keilmuan ulama yang mampu menempatkan Islam sebagai kekuatan moral dan sosial yang memperkuat negara, bukan melemahkannya.

Gagasan itu menemukan jejak nyatanya dalam sejarah panjang perjuangan ulama NU. KH. Umar Wahid, cucu Hasyim Asy’ari, menuturkan bahwa Mbah Wahab adalah motor penggerak lahirnya Nahdlatul Ulama sekaligus penggagas berbagai instrumen sosial yang menjaga kohesi bangsa. Salah satunya adalah tradisi halal bihalal, yang sejak awal dirancang sebagai mekanisme rekonsiliasi sosial dan politik di tengah masyarakat yang beragam.

“Halal bihalal bukan sekadar tradisi silaturahmi. Itu adalah cara Mbah Wahab membangun rekonsiliasi dan merawat persatuan bangsa,” ujar Umar Wahid.

Dimensi kebangsaan Mbah Wahab juga berpadu dengan kiprahnya di level global. Putrinya, Nyai Hajjah Hizbiyah Rochim Wahab, mengingatkan bahwa melalui misi diplomatik Komite Hijaz yang dipimpin Mbah Wahab, umat Islam dunia terselamatkan dari kehilangan salah satu situs paling suci mereka.

“Berkat misi Komite Hijaz yang dipimpin Mbah Wahab, Makam Rasulullah SAW terselamatkan dari pembongkaran. Sampai hari ini, seluruh umat Islam dunia masih bisa berziarah ke Madinah karena perjuangan beliau,” tuturnya.

Buku KH Abdul Wahab Hasbullah karya Drs. KH Abdul Mun’im, DZ yang dibedah dalam acara tersebut disusun dengan dukungan Arsip Nasional Republik Indonesia agar rekam jejak intelektual dan perjuangan Mbah Wahab terdokumentasi secara ilmiah. Upaya ini, menurut H. Romahurmuziy selaku cicit Mbah Wahab, penting agar generasi baru memahami bahwa Islam kebangsaan Indonesia dibangun melalui kerja intelektual dan keberanian politik para ulama.

Ketua Penyelenggara dari KWF dan IKABU Jabodetabek, Robi Cahyadi, berharap warisan pemikiran Mbah Wahab tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah. Ia ingin generasi muda menjadikannya sebagai kompas dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah perubahan zaman.

Read Entire Article
Politics | | | |