Ilustrasi budidaya magot.
REPUBLIKA.CO.ID, SORONG – Di sudut Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, sebuah bangunan panjang 15 meter dan lebar 9 meter segera berdiri. Bukan sekadar gudang atau kantor biasa, melainkan rumah maggot pertama di Tanah Papua. Sebuah inovasi yang lahir dari keprihatinan terhadap gunungan sampah dan ancaman gas rumah kaca.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, menuturkan pembangunan rumah maggot ini menggunakan dana iklim dari Badan Pengelola Dana Lingkungan. Proyek ini dirancang untuk menanggulangi sampah organik yang selama ini menjadi pemicu perubahan iklim dan pemanasan global.
"Sebab di mana ada tumpukan sampah, gas metana akan dihasilkan, menjadi sumber gas rumah kaca yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim yang mendatangkan berbagai bencana," ujar Julian di Sorong, Selasa (17/2/2026).
Di rumah maggot nanti, sampah organik tak akan dibiarkan membusuk dan melepas metana ke atmosfer. Sebaliknya, sampah itu akan diolah menjadi pakan bernutrisi tinggi untuk itik, ayam, ikan, dan ternak lainnya. Sisanya, diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman.
"Sampah bukan lagi masalah, tetapi sumber daya yang bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi," tegas Julian.
Sistem ini mengubah sampah organik menjadi pakan bergizi melalui larva maggot. Lebih dari sekadar solusi lingkungan, rumah maggot ini membuka peluang usaha bagi desa maupun badan usaha di Bumi Cenderawasih.
Saat ini, DLH PBD tengah menyiapkan pemasangan infrastruktur. Peletakan batu pertama direncanakan akan dilakukan oleh Gubernur PBD, Elisa Kambu. Program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah daerah serius menangani persoalan sampah secara berjenjang.
Julian berharap rumah maggot ini kelak menjadi model bagi kabupaten dan kota lain di Papua, sekaligus menginspirasi inovasi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi ekonomi lokal.
sumber : Antara

2 hours ago
5














































