Purbaya: Ekonomi Syariah Harus Jadi Arus Utama, Bukan Sekadar Label

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi syariah di Indonesia jangan lagi sekadar jargon atau ganti istilah. Ia menuntut sektor ini benar-benar menjadi bagian dari strategi besar pembangunan nasional, sejajar dengan ekonomi hijau dan digital.

Dalam Sharia Economic Forum yang digelar pekan lalu, Purbaya menyoroti ironi besar. Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi pusat keuangan syariah justru berada di London, Hong Kong, dan Singapura. “Kita ketinggalan sekali dalam hal itu,” katanya.

Ia menilai implementasi belum kuat meski pemerintah telah menyebut ekonomi syariah sebagai instrumen nyata kemandirian bangsa. “Saya tidak melihat strategi pembangunan yang berusaha mendorong ekonomi syariah,” ujarnya.

Kritik paling tajam tertuju pada praktik perbankan syariah. Istilah riba memang dihindari, tetapi biaya pembiayaan kerap lebih tinggi. “Diubah istilah ribanya tidak dipakai, tetapi memakai istilah lain yang lebih mahal. Menurut saya itu arah yang salah,” tegas Purbaya.

Bagi masyarakat, ini persoalan nyata. Banyak nasabah memilih bank syariah karena keyakinan agama, bukan semata hitung-hitungan keuntungan. Jika biaya mahal dan layanan tidak jauh berbeda dari konvensional, kepercayaan bisa luntur.

Purbaya membandingkan dengan Jerman. Dari diskusi dengan pejabat Deutsche Bundesbank, ia mengaku terkejut mendengar klaim perbankan Jerman lebih “syariah”. “Walaupun negara kamu negara Islam terbesar di dunia, negara saya lebih syariah dari negara kamu,” katanya menirukan.

Purbaya menjelaskan, Jerman didominasi bank kecil dan bank daerah dengan margin rendah, bunga simpanan 1 persen dan pinjaman 2 persen. Fokusnya keberlanjutan dan sektor riil, bukan mengejar keuntungan besar. Model itu menciptakan stabilitas dan keadilan yang dinilai mirip dengan prinsip syariah.

Ia juga menyinggung sukuk dan green sukuk yang telah diterbitkan dalam jumlah besar. Instrumen tersebut bukan sekadar menutup APBN, tetapi alat membangun ekosistem syariah. Namun, tanpa aliran nyata ke UMKM, industri halal, dan sektor produktif, semuanya hanya menjadi angka di atas kertas.

“Ironi fesyen Muslim pun sama. Pasar besar, tetapi produksi domestik belum dominan,” katanya.

Tanpa pembiayaan kuat, sertifikasi halal, dan industri hulu yang solid, pasar akan terus dibanjiri impor. Purbaya menekankan Indonesia memiliki potensi menjadi pemimpin global. Aset keuangan syariah harus meningkat, wakaf uang tumbuh, dan ekonomi halal menjadi mesin pertumbuhan yang adil.

“Kita besar, tetapi pemimpinnya saja tidak ada. Imamnya tidak ada dalam bisnis syariah,” sindirnya.

Read Entire Article
Politics | | | |