
Oleh : Fahmi Salim, Ketua Umum Forum Dai dan Muballigh Azhari Indonesia (FORDAMAI) dan Dewan Syariah Serikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemarin sore, Sabtu 14 Februari 2026, saya diundang mengisi tabligh akbar oleh pengurus Taman Qur’an Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam rangka menyambut (tarhib) bulan suci Ramadan. Teman-teman mahasiswa UMY meminta saya sampaikan tema spesifik: “Ramadan The Great Spiritual Reset”.
Di tengah hiruk-pikuk notifikasi ponsel, target kerja yang tak ada habisnya, dan budaya hustle yang memuja kecepatan, banyak dari kita mengalami paradoks zaman modern: hidup semakin sibuk, tetapi jiwa justru semakin sunyi. Kita produktif secara fisik, namun lelah secara batin. Fenomena ini bisa disebut sebagai spiritual burnout, kelelahan ruhani yang lahir bukan karena kurang aktivitas, melainkan karena hilangnya makna.
Alquran telah lama memberi diagnosis yang presisi atas kegelisahan ini: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. ar-Ra‘d: 28). Namun realitasnya, ketenangan batin justru semakin mahal. Ibadah sering kali dijalani sebagai rutinitas mekanis. Shalat tepat waktu, tetapi pikiran tertinggal di ruang kerja. Puasa menahan lapar, tetapi hati tetap haus akan pengakuan sosial. Agama yang seharusnya menjadi oase justru terasa kering karena kehilangan ruhnya.
Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa ibadah tanpa kesadaran hanya menyisakan kelelahan: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.” Peringatan ini terasa sangat relevan hari ini.\
Distorsi Ruhani di Tengah Rutinitas Dunia
Selama sebelas bulan di luar Ramadhan, jiwa kita terpapar apa yang bisa disebut sebagai distorsi ruhani: jarak yang makin lebar antara apa yang diyakini di tempat ibadah dan bagaimana nilai itu hadir di ruang publik. Al-Qur’an menyebut kondisi ini dengan sangat tajam: “Mereka mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sementara terhadap akhirat mereka lalai” (QS. ar-Rūm: 7).
Distorsi ini melahirkan pribadi yang taat secara simbolik, tetapi rapuh secara moral. Ibadah kehilangan daya transformasinya karena tidak lagi mengubah orientasi hidup. Padahal, dalam Islam, iman tidak berhenti pada ritus, melainkan harus menjelma menjadi karakter dan etika sosial.
Inilah jawaban atas pertanyaan serius: kenapa di negara-negara yang masyarakatnya relijius justru angka korupsi tinggi, sementara di negara-negara sekuler indeks korupsi rendah?
Kita tidak sedang berapologi dengan jawaban di atas, saat kita dihadapkan pada pilihan yang tidak ideal: mau jadi negara berketuhanan seperti RI tapi korupsi dan kemiskinan tinggi atau jadi negara sekuler bahkan ateis seperti AS dan China tapi bersih dari korupsi dan kesejahteraan cukup tinggi? Sebab rumusan Islam sangat jelas: ajaran agama yang dijalankan konsisten dan substantif (tidak cuma formalitas) pasti melahirkan masyarakat dan negara yang adil makmur.
Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan akan datangnya masa ketika Islam hanya tersisa namanya, dan Al-Qur’an hanya tinggal bacaannya. Bukan karena teksnya hilang, melainkan karena nilai-nilainya tidak lagi membentuk perilaku.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
5















































