Yield Turun, Penerbitan Obligasi Korporasi Tembus Rp 284,3 Triliun

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar surat utang korporasi mencetak rekor baru pada 2025. Total penerbitan mencapai Rp 284,3 triliun, melonjak hampir 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 149,7 triliun. Angka ini bahkan melampaui rekor lama pada 2017?

Direktur Pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), Suhindarto, menjelaskan lonjakan ini tak lepas dari turunnya imbal hasil (yield) obligasi korporasi yang lebih cepat dibandingkan suku bunga kredit perbankan. “Transmisi penurunan suku bunga di pasar surat utang lebih cepat. Yield turun lebih signifikan dibandingkan rata-rata bunga kredit,” ujarnya dalam paparan di Jakarta, dikutip Selasa (17/2/2026).

Sepanjang 2025, Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali. Di pasar keuangan, responsnya terlihat jelas. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun dari 7 persen pada akhir 2024 menjadi 6,07 persen pada akhir 2025. Dampaknya, kupon obligasi korporasi ikut melandai.

Kondisi ini dimanfaatkan emiten untuk mengunci pendanaan jangka panjang. Porsi tenor lima tahun naik menjadi 34,36 persen pada 2025, sementara tenor pendek satu tahun menyusut menjadi 22,23 persen. Bahkan tenor tujuh tahun yang biasanya kurang diminati naik menjadi 12,6 persen.

“Dengan biaya dana yang lebih murah, korporasi mengambil momentum untuk mengamankan pendanaan tenor lebih panjang,” kata Suhindarto.

Dari sisi kualitas, emiten berperingkat tinggi mendominasi. Sekitar 58 persen penerbitan 2025 berasal dari surat utang berperingkat AAA. Nilainya melonjak dari Rp 58,9 triliun pada 2024 menjadi Rp 164,96 triliun pada 2025. Sebaliknya, penerbitan peringkat BBB justru turun menjadi Rp 1,62 triliun.

Bagi investor ritel maupun manajer investasi, tren ini menunjukkan preferensi pasar terhadap instrumen yang relatif aman di tengah ketidakpastian global. Risiko geopolitik dan fluktuasi nilai tukar masih membayangi sehingga investor cenderung menghindari peringkat menengah ke bawah.

Secara sektoral, perusahaan induk menjadi penerbit terbesar dengan Rp 69,3 triliun, disusul perbankan Rp 41,7 triliun dan multifinance Rp 38,2 triliun. Artinya, sektor keuangan tetap menjadi motor utama pasar obligasi korporasi.

Read Entire Article
Politics | | | |