Lawan Pemanasan Global dari Meja Makan Selama Ramadhan

3 hours ago 6

Pengunjung memilih makanan di salah satu pusat kuliner di kawasan Senen, Jakarta, Ahad (9/3/2025). Pusat kuliner tersebut mayoritas menawarkan aneka makanan khas Sumatera Barat di antaranya seperti nasi kapau, lamang tapai hingga kue-kue tradisional lainnya untuk menu berbuka puasa. Nasi Kapau dengan beragam lauk yang disajikan bertingkat menjadi primadona bagi pengunjung. Pengunjung bisa membawa pulang atau langsung menikmati hidangan berbuka di lokasi yang selalu ramai saat Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah ancaman krisis iklim global yang kian nyata, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam merombak sistem pangannya. Laporan terbaru mengungkapkan ketergantungan pada satu jenis komoditas pokok dan pangan impor bukan hanya mengancam ketahanan nutrisi nasional, tetapi juga memperburuk emisi karbon yang memicu pemanasan global.

Sebagai respons terhadap situasi ini, sejumlah organisasi lingkungan dan keagamaan mulai mendorong gerakan diversifikasi pangan lokal, menjadikannya sebagai instrumen vital dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus pemenuhan gizi masyarakat. Upaya ini pun kini dikaitkan dengan momentum spiritual Ramadhan sebagai titik balik perbaikan pola konsumsi nasional.

Sistem pangan global saat ini berada di persimpangan jalan. Berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2025, satu dari sepuluh orang di dunia masih kekurangan gizi, sementara satu dari empat orang mengalami kelebihan berat badan.

Paradoks ini mencerminkan kegagalan dalam distribusi dan keterjangkauan pangan bergizi. Namun, isu yang lebih mendesak bagi kelestarian planet adalah jejak ekologis dari produksi makanan.

Sektor pangan dunia tercatat menyumbang sekitar 30 persen dari total emisi gas rumah kaca. Kontribusi ini sebagian besar berasal dari perluasan lahan pertanian dan perkebunan yang mengorbankan sekitar 5,5 juta hektar hutan setiap tahunnya, terutama di kawasan tropis seperti Indonesia.

Selain deforestasi, praktik pertanian monokultur skala besar telah merusak struktur tanah, menguras cadangan air tanah, dan menurunkan keanekaragaman hayati. Laporan panel ahli Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menegaskan sektor pangan merupakan kontributor utama yang mendorong sejuta spesies flora dan fauna ke ambang kepunahan.

Di Indonesia, dampaknya terasa melalui fenomena triple burden of malnutrition atau tiga beban masalah gizi: gizi buruk (stunting), kekurangan mikronutrien, dan lonjakan kasus obesitas. Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan lebih dari 95 persen penduduk Indonesia kekurangan konsumsi sayuran dan buah, sementara konsumsi karbohidrat terpusat pada beras yang produksinya kian rentan terhadap fluktuasi iklim.

Read Entire Article
Politics | | | |