REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tengah mempertimbangkan untuk mengajukan banding atas kartu merah yang diterima bek Jarell Quansah saat Inggris mengalahkan Meksiko pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Bek Bayer Leverkusen itu diusir keluar lapangan pada babak kedua kemenangan dramatis Inggris 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca, Ahad (5/7/2026). Quansah menerima kartu merah setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) menyatakan tekel tingginya terhadap bek Meksiko, Jesus Gallardo, layak diganjar kartu merah.
Meski harus bermain dengan 10 pemain selama 36 menit terakhir, Inggris mampu mempertahankan keunggulan dan memastikan tiket ke perempat final. The Three Lions selanjutnya akan menghadapi Norwegia di Miami, Sabtu mendatang.
Sesuai regulasi, Quansah harus menjalani hukuman larangan bermain pada laga melawan Norwegia tersebut. Namun, menurut sumber ESPN, FA kini sedang mengkaji berbagai opsi untuk mengajukan banding.
Pertimbangan itu tidak lepas dari keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman larangan satu pertandingan terhadap penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun. Sebelumnya, Balogun mendapat kartu merah saat menghadapi Bosnia-Herzegovina, tetapi kemudian tetap diizinkan tampil setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta FIFA meninjau keputusan tersebut.
Presiden FIFA Gianni Infantino menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil oleh komisi independen FIFA sesuai prosedur yang berlaku dan tanpa campur tangan dari pihak mana pun. Kendati demikian, keputusan itu memicu kontroversi, termasuk protes dari Federasi Sepak Bola Belgia yang mempertanyakan dasar pembatalan hukuman Balogun sebelum laga melawan Amerika Serikat.
Di tengah polemik tersebut, Trump juga memberikan pujian kepada kapten Inggris Harry Kane melalui media sosial Truth Social setelah kemenangan atas Meksiko. Ia kembali menyebut Kane sebagai "pemain hebat" saat berbicara kepada media pada Senin.
Ketika ditanya apakah Kane bisa melobi Presiden Trump terkait kemungkinan banding kartu merah Quansah, pelatih Inggris Thomas Tuchel menjawab dengan nada bercanda.
"Mungkin, itu bisa menjadi titik awal yang baik," ujar Tuchel sambil tersenyum.
Di balik candaan itu, Tuchel mengaku khawatir keputusan FIFA dalam kasus Balogun telah menciptakan preseden baru yang berpotensi membingungkan penerapan aturan disiplin.
"Dari mana ini dimulai dan di mana ini akan berakhir? Bisakah kita membatalkan kartu merah Quansah atau tidak? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" kata pelatih asal Jerman tersebut.
"Di mana batasnya harus ditarik? Itulah pertanyaan yang saya ajukan. Saya tidak punya jawabannya. Apakah sekarang setiap kartu kuning atau kartu merah bisa diajukan banding hanya karena ada yang merasa keputusan itu tidak tepat? Dari mana ini dimulai dan di mana akhirnya?" ujar Tuchel.
Keputusan FA mengenai apakah akan mengajukan banding diperkirakan akan segera diambil mengingat Inggris hanya memiliki waktu beberapa hari sebelum menghadapi Norwegia pada babak perempat final Piala Dunia 2026.

1 day ago
9

















































