Gotong Royong untuk Pendidikan, Kemendikdasmen Satukan Mitra dalam Gerakan PSPB

11 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengaktivasi Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, hingga individu untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Gerakan ini dihadirkan sebagai respons atas besarnya kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan. Namun, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi, yaitu berbagai bentuk bantuan dan kolaborasi yang selama ini berjalan secara terpisah. Melalui PSPB, berbagai inisiatif tersebut diharapkan dapat terintegrasi, lebih tepat sasaran, selaras dengan kebutuhan satuan pendidikan, serta memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan semangat partisipasi lahir dari keyakinan bahwa setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan memberikan manfaat kembali bagi diri sendiri maupun masyarakat. Karena itu, menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi, tidak terbatas pada bantuan dalam bentuk materi.

"It is not about how much we give others, tidak soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi how meaningful, seberapa besar makna yang bisa kita berikan dari pemberian kita kepada orang lain. Karena itu kami membuka pintu lewat Rumah Pendidikan kepada siapa pun untuk berpartisipasi," ujar Menteri Mu'ti, Senin (6/7/2026).

Ia mengatakan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan izin kepada Kemendikdasmen untuk membangun kemitraan dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden melalui partisipasi masyarakat yang dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. "Partisipasi semesta adalah dalam rangka pemenuhan kebutuhan, percepatan pelaksanaan program, peningkatan, dan perluasan," jelasnya.

Mu’ti menegaskan kolaborasi dibutuhkan karena masih banyak kebutuhan pendidikan yang memerlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pengembangan bakat dan minat peserta didik, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

"Kami terus membuka diri untuk bermitra dengan berbagai pihak karena dengan cara kemitraan itulah kami bisa melakukan pemenuhan kebutuhan, percepatan, peningkatan, dan perluasan," ujarnya.

Ia juga menekankan pembangunan pendidikan tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan fisik semata, tetapi juga melalui perubahan cara berpikir dan penguatan karakter. Sebab, dalam pendidikan yang dibangun adalah mindset dan manusia sehingga diperlukan sentuhan dari berbagai pihak.

"DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Mari kita wujudkan bersama-sama pendidikan bermutu untuk semua secara merata, membangun generasi Indonesia yang hebat dan berkualitas," kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |