Alat tes kehamilan menunjukkan tanda negatif (ilustrasi). Jumlah perempuan yang mengalami infertilitas (ketidaksuburan) secara global diperkirakan akan mencapai 80 juta kasus pada 2036.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah perempuan yang mengalami infertilitas (ketidaksuburan) secara global diperkirakan akan mencapai 80 juta kasus pada 2036. Angka tersebut meningkat 1,5 kali lipat dibandingkan sekitar 53,6 juta kasus pada 2023, dengan peningkatan terbesar diperkirakan terjadi pada perempuan berusia 35 hingga 39 tahun.
Temuan ini merujuk pada penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Para peneliti mencatat bahwa peningkatan tersebut terutama dipicu oleh semakin banyak perempuan yang menunda kehamilan hingga usia lebih matang.
Seiring bertambah usia, cadangan sel telur dan kemampuan sel untuk dibuahi mengalami penurunan. Kondisi ini menyebabkan kesuburan menurun, meningkatkan risiko keguguran, serta mengurangi tingkat keberhasilan teknologi reproduksi berbantu.
"Seiring percepatan penuaan populasi dan transisi sosioekonomi, jumlah perempuan yang berisiko mengalami infertilitas di usia lanjut terus meningkat, sehingga persoalan ini semakin penting bagi isu kesehatan masyarakat," kata peneliti dilansir laman Euronews, Rabu (8/7/2026).
Penelitian tersebut menganalisis data Global Burden of Disease 2023 yang mencakup 204 negara dan wilayah selama periode 1990-2023. Hasil analisis menunjukkan peningkatan infertilitas paling besar terjadi di negara-negara yang lebih maju.
Di banyak negara berkembang, infertilitas juga meningkat akibat berbagai perubahan gaya hidup dan sosial. Misalnya saat ini perempuan cenderung menikah dan mulai memiliki anak pada usia yang lebih matang.
Sayangnya di banyak negara berkembang, akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan kesuburan masih terbatas karena biaya yang mahal. Hal ini menambah masalah dalam mengatasi masalah infertilitas.

11 hours ago
7

















































