REPUBLIKA.CO.ID, NATUNA -- Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kepulauan Riau mencatat kelapa bulat asal Kabupaten Natuna menjadi komoditas primadona yang diminati daerah lain menjelang Ramadhan.
Pada Rabu (18/2), sebanyak 148,89 ton kelapa bulat akan dikirim ke Tanjungpinang setelah melalui pemeriksaan karantina dan diterbitkan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT-3).
Kelapa bulat merupakan istilah untuk buah kelapa utuh yang masih dalam kondisi segar dan belum diolah. Tanaman kelapa sendiri dikenal sebagai "pohon kehidupan" karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari batang untuk bahan bangunan, lidi untuk sapu, hingga buah yang memiliki nilai ekonomi tertinggi . Penanggung Jawab Satuan Layanan BKHIT Natuna, Iwan Setiawan, menyebutkan kelapa asal Natuna dikenal dengan sebutan kelapa jambul.
Secara ilmiah, tanaman kelapa memiliki nama latin Cocos nucifera L. . Tanaman ini termasuk dalam famili Arecaceae (suku pinang-pinangan) dan merupakan satu-satunya spesies dalam genus Cocos . Meskipun ada varietas yang pernah diusulkan seperti Cocos nucifera var. javanica, secara taksonomi nama tersebut disinonimkan dengan Cocos nucifera .
Produk Olahan Kelapa Bulat
Kelapa bulat dapat diolah menjadi beragam produk turunan dengan nilai tambah signifikan:
Virgin Coconut Oil (VCO) dan minyak kelapa: Memberikan nilai tambah hingga 11 kali lipat dibanding kelapa mentah .
Arang tempurung dan briket: Produk unggulan ekspor untuk kebutuhan shisha di Timur Tengah dan barbeque di Eropa, dengan nilai tambah 4,5 kali lipat .
Nata de coco: Olahan dari air kelapa dengan nilai tambah 3,6 kali lipat .
Cocofiber dan cocopeat: Berbahan dasar sabut kelapa, digunakan untuk media tanam organik dan geotekstil .
Produk lainnya adalah desiccated coconut (kelapa parut kering), gula kelapa, serta santan UHT dan air kelapa kemasan.
Tingginya permintaan kelapa bulat dipicu beberapa faktor. Menjelang Ramadhan, konsumsi rumah tangga dan UMKM meningkat signifikan karena masakan bersantan menjadi hidangan khas.
Faktor lainnya adalah lonjakan ekspor. Sepanjang Januari-Oktober 2025, nilai ekspor kelapa bulat melonjak 143,90 persen mencapai US$208,2 juta (Rp3.507.545.400.000/Tiga triliun lima ratus tujuh miliar lima ratus empat puluh lima juta empat ratus ribu rupiah). China menjadi pasar utama dengan nilai impor mencapai US$57,24 juta (Rp964.150.560.000/Sembilan ratus enam puluh empat miliar seratus lima puluh juta lima ratus enam puluh ribu rupiah) pada Januari-April 2025.
Potensi Ekonomi Nasional dari Komoditas Kelapa Bulat
Komoditas kelapa memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Pada 2024, ekspor kelapa bulat dan produk turunannya mencapai 431.915 ton dengan nilai devisa sekitar US$1,55 miliar atau setara Rp25 triliun. Bahkan jika hilirisasi dioptimalkan, potensi ekspor diperkirakan bisa mencapai US$6,5 miliar .
Produksi kelapa nasional mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun dengan luas perkebunan 3,32 juta hektare, dan 98 persen dikelola petani rakyat . Pemerintah mengalokasikan Rp750 miliar pada 2025 untuk revitalisasi perkebunan kelapa guna meningkatkan produktivitas .
Petugas karantina berkomitmen mendorong potensi daerah untuk menembus pasar dalam negeri. "Dengan diperdagangkannya kelapa Natuna ke daerah lain, menjadi bukti hasil pertanian Natuna dapat bersaing dengan daerah lainnya," ujar Iwan.
sumber : Antara

3 hours ago
6














































