REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menghidupkan malam Nisfu Syaban menjadi kebiasaan penduduk Makkah. Menurut Muhammad bin Ishaq al-Fakihani dalam kitabnya Akhbar Makkah fi Qadim ad-Dahr wa Haditsihi (Kabar-kabar tentang Makkah di masa lalu dan sekarang mengungkapkan, setidaknya di masa al-Fakihani (w 272 Hijriyah), ia bercerita seperti ini:
"Penduduk Makkah sejak dahulu sampai hari ini, jika malam Nisfu Syaban hampir kebanyakan mereka, baik laki-laki maupun perempuan itu keluar rumah menuju masjid. Mereka sholat, thawaf, menghidupkan malam itu sampai pagi, dengan membaca Alquran di dalam Masjid al-Haram, sampai mereka mengkhatamkan Alquran."
"Mereka sholat malam (Nisfu Sya'ban) itu, di antara mereka ada yang sholat 100 rakaat, membaca Surat al-Fatihah dan al-Ikhlas setiap rakaat sebanyak 10 kali. Mereka mengambil air zamzam malam itu, mereka meminumnya, mandi dengannya dan menyiramkan kepada orang yang sakit, mencari keberkahan malam itu. Banyak juga hadits diriwayatkan tentang malam (Nisfu Sya'ban) itu."
Termasuk ulama salaf yang menghidupkan malam Nisfu Sya'ban adalah al-Hafidz Ibnu Asakir.
Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam kitabnya Qimat az-Zaman Inda al-Ulama, menyebutkan bahwa Ibnu Asakir ini ulama yang banyak ibadahnya.
"(Ibnu Asakir) itu banyak melakukan amalan sunnah dan dzikir, beliau menghidupkan malam Nisfu Syaban dan malam id dengan sholat dan dzikir."
Ibnu al-Jauzi al-Hanbali termasuk ulama yang menganjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban.
Dalam kitabnya at-Tabshirah, beliau menyebutkan, "Wahai para hamba Allah, sesungguhnya malam kalian ini malam Nisfu Syaban, itu mulia, hebat sifatnya, Allah "yaththali'u" terhadap para hamba-Nya, untuk mengampuni mereka kecuali orang yang ingkar terhadap-Nya."
Atha' bin Yasar seorang Tabiin di Madinah menyebut bahwa malam Nishfu Sya'ban itu malam yang utama setelah Lailatul Qadar.
Atha' bin Yasar menyebutkan sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif al-Ma'arif.
Dari Atha' bin Yasar berkata, "Tidak ada satu malam setelah Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam Nisfu Sya'ban.
Maka, kita juga akan temukan amalan para salaf dalam rangka memuliakan malam Nishfu Syaban ini.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif al-Ma'arif menceritakan bahwa dahulu para ulama salaf dari kalangan Tabiin di Syam bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam Nisfu Sya'ban.
Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan, "Pada malam Nisfu Sya'ban, para Tabiin dari Ahli Syam seperti Khalid bin Mi'dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lainnya mereka sangat mengagungkan malam itu dan bersungguh-sungguh dalam ibadah. Dari merekalah orang-orang mengambil fadhilahnya.
Jadi beribadah dengan lebih giat pada malam Nisfu Syaban ini menjadi kebiasaan dari ulama salaf dari kalangan Tabiin, khususnya dari Syam. Demikian dijelaskan Ustaz Hanif Luthfi dalam buku Malam Nishfu Syaban terbitan rumah Fiqih Publishing.

1 day ago
6















































