Buku Kisah KH Helmi Abdul Mubin, Menag: Penyemangat Pesantren Sebagai Mercusuar Ilmu

3 hours ago 4

Buku Mudiruna yang ditulis oleh KH Saiful Falah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meski telah wafat pada 2025 lalu, kisah hidup pendiri Pesantren Ummul Quro Leuwiliang Bogor, KH Helmi Abdul Mubin, terus hidup di tengah masyarakat.

Perjalanan hidupnya yang penuh keterbatasan tidak pernah mematahkan semangatnya untuk belajar dan berdakwah. Di tengah kehidupan yang keras, selalu ada jalan yang membawanya menemukan cahaya ilmu dan keberkahan.

Bekal hikmah yang ia peroleh dari perjalanan menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan dalam dan luar negeri kemudian menjadi fondasi perjuangannya di bidang dakwah dan pendidikan.

Dakwahnya tidak berhenti dari satu mimbar ke mimbar lain. Dalam segala keterbatasan, ia bahkan berhasil mendirikan pesantren, sesuatu yang pada masa itu tampak nyaris mustahil jika melihat perjalanan hidupnya.

Namun Allah memiliki jalan-Nya sendiri. Dalam berbagai kesulitan yang dihadapi, pintu-pintu kemudahan perlahan terbuka hingga KH Helmi berhasil mendirikan dan mengembangkan Pesantren Ummul Quro.

Sejak berdiri pada 1993 hingga akhir hayatnya, banyak kalangan mengapresiasi perjuangan sang alim yang dikenal sebagai “penenun peradaban” tersebut.

Kisah hidup KH Helmi kemudian diabadikan oleh KH Saiful Falah, yang kini menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Ummul Quro, penerus perjuangan almarhum.

Tidak seperti biografi pada umumnya, kisah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Islam Madinah itu disusun dengan gaya bertutur yang mengalir dan dekat dengan pembaca.

Buku berjudul Mudiruna itu ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca seolah mendengar langsung kisah hidup sang kiai.

“Aku merantau mencari bekal ilmu. Sudah cukup mata menyaksikan beban hidup yang teramat berat dipikul oleh Ayah. Sebagai laki-laki, tidak sepantasnya aku menambah beban. Aku harus mengubah keadaan. Aku harus pergi meninggalkan kampung halaman. Selamat tinggal pulau garam,” demikian salah satu kutipan dalam buku tersebut.

Read Entire Article
Politics | | | |