Masjid Sabilurrohman
Khazanah | 2026-02-23 17:42:30
Jika hari ini adalah hari terakhir hidup kita, pesan apa yang akan kita tinggalkan untuk orang-orang yang kita cintai? Harta? Nama baik? Atau pesan tentang kesuksesan dunia? Pertanyaan itu membawa kita pada sebuah momen yang sangat menggetarkan dalam sejarah Islam. Di akhir hayatnya, Muhammad ﷺ tidak berwasiat tentang strategi perang, tidak pula tentang perluasan wilayah dakwah. Beliau justru berulang kali mengucapkan, “Jagalah shalat, jagalah shalat ”
Di antara senja yang perlahan redup, seorang hamba tetap setia bersujud menghadap kiblat. Karena menjaga shalat bukan tentang suasana Ramadhan semata, tetapi tentang menjaga cahaya iman agar tetap menyala dalam setiap waktu.
Kalimat itu diulang. Bukan sekali. Seolah menjadi simpulan dari seluruh risalah yang beliau bawa. Seakan beliau ingin memastikan bahwa umat ini tidak kehilangan tiang penyangga agamanya.
Ramadhan sering membuat kita merasa lebih dekat kepada Allah. Masjid menjadi lebih ramai, tilawah lebih rutin, doa-doa lebih panjang dan khusyuk. Kita merasa iman meningkat. Hati terasa lebih lembut. Namun pertanyaannya: apakah kedekatan itu akan bertahan setelah Ramadhan berlalu?
Allah menegaskan dalam Qur'an, khususnya QS. Al-Baqarah ayat 238–239, agar kaum mukminin memelihara shalat dalam segala keadaan—aman maupun takut, safar maupun mukim. Bahkan dalam kondisi perang, shalat tetap ditegakkan dengan tata cara yang disesuaikan. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah musiman, bukan pula ibadah yang bergantung pada suasana hati.
Jika dalam situasi genting manusia tetap diwajibkan menghadap Allah, maka bagaimana mungkin dalam kondisi nyaman dan aman kita justru menunda-nunda? Jika dalam ketakutan shalat tidak gugur, mengapa dalam kelapangan kita begitu mudah lalai?
Ramadhan sejatinya adalah madrasah konsistensi. Selama sebulan penuh kita dilatih bangun sebelum fajar, menahan lapar dan dahaga, serta berdiri dalam tarawih yang panjang. Disiplin itu seharusnya melahirkan perubahan yang nyata, terutama dalam menjaga shalat lima waktu.
Menjaga shalat bukan sekadar hadir secara fisik. Ia mencakup menjaga waktunya, menyempurnakan wudhunya, memperbaiki bacaannya, dan menghadirkan hati di setiap rukuk dan sujud. Shalat yang dijaga akan melahirkan ketenangan. Shalat yang ditegakkan dengan sungguh-sungguh akan menjadi benteng dari kelalaian dan kemaksiatan.
Menjaga shalat berarti menjaga iman di dalam dada. Siapa yang konsisten menjaga shalatnya—tepat waktu, penuh kesadaran, dan tidak bergantung pada suasana—ia sedang mengokohkan fondasi hidupnya. Ramadhan bukan hanya tentang meningkat sesaat, tetapi tentang bertahan dalam ketaatan. Karena ketika shalat terjaga, hubungan dengan Allah pun tetap menyala, bahkan setelah bulan suci berlalu.
Pada akhirnya, Ramadhan akan pergi, masjid mungkin kembali lengang, dan suasana religius tak lagi seintens hari-hari sebelumnya. Namun shalat tetap lima waktu, tetap memanggil, tetap menunggu untuk ditegakkan. Jangan biarkan semangat Ramadhan berhenti pada kenangan. Biarlah ia menjelma menjadi komitmen yang terus hidup dalam setiap adzan yang kita dengar dan setiap sujud yang kita panjatkan. Karena siapa yang menjaga shalatnya hari ini, sedang menyiapkan keselamatannya esok hari.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

3 hours ago
7














































