Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli (kanan) dan Gus Miftah (kiri) sedang berbincang

Oleh : KH Fadhil Rahmi Lc MA anggota DPD RI Periode 2019-2024 dan Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Bireuen Aceh
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Melihat sosok KH. Imam Jazuli hari ini, yang mengasuh dan berdiri di tengah ribuan santri di Pesantren Bina Insan Mulia, ingatan saya justru kerap melompat jauh ke belakang—ke lorong-lorong Kairo yang berdebu, ke aroma teh di kedai kopi pinggir jalan, dan ke ruang-ruang diskusi yang penuh asap rokok serta argumen yang meledak-ledak.
Bagi lebih dari 5.000 santrinya, ia adalah Kiai. Teladan dan ayah ideologis. Namun bagi saya, ia tetaplah Izul; sosok sahabat yang sejak masa mahasiswa di Al-Azhar telah memilih jalan hidup sebagai "sang pengganggu" kemapanan berpikir.
Kenangan saya paling lekat bermuara pada meja redaksi. Saat itu, kami bersama-sama mengelola Buletin Mahasiswa Terobosan, lalu berlanjut di Jurnal Nuansa (KMNU) dan di ICMI Orsat Cairo. Di sanalah saya melihat bagaimana nalar kritis Izul bekerja. Ia bukan tipe pemikir yang puas dengan sekadar menghafal teks-teks klasik tanpa kontekstualisasi.
Izul adalah musuh bebuyutan bagi "mentalitas sektarian". Ia seringkali melempar kritik tajam pada kawan-kawan mahasiswa yang lebih senang menghabiskan waktu di sekretariat organisasi kedaerahan tanpa bobot akademis yang jelas. Baginya, menjadi mahasiswa adalah tugas intelektual, bukan sekadar gaya-gayaan berorganisasi.
Ada satu fragmen ingatan yang tak mungkin luntur: peristiwa di Senat Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir -PPMI. Saat itu, dengan gagah dan berani, Izul sebagai ketua Senat mengundang tokoh Kristen Koptik Mesir, Milad Hana untuk narasumber seminar, Di tengah iklim mahasiswa yang mungkin masih kaku, ia berani mendobrak sekat eksklusivisme.
Puncak dari "keliaran" ijtihad politiknya adalah ketika ia menjadi pendiri dan ketua partai PDIP Perwakilan Mesir (Anis Maftuchin Sekjend, dan Guntur Romli Bendahara)—ini adalah sejarah, ketika membidani lahirnya organisasi politik nasionalis sekuler di gerbang al-Azhar Mesir.
Saat banyak mahasiswa Azhar masih berdebat apakah "politik Islam" itu wajib, Izul sudah melompat jauh ke depan dengan sebuah tesis sederhana namun mendalam: "Berpartai adalah soal ijtihad." Ia meyakini bahwa pengabdian pada bangsa tidak harus selalu dipasung dalam simbol-simbol agama yang formalistik.

3 hours ago
7














































