Bantah Israel, Cendikawan Emirat: Penjahat Perang Benjamin Netanyahu tak Diterima di Tanah UEA

2 hours ago 3

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Cendekiawan Emirat Abdulkhaleq Abdulla menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai 'penjahat perang' yang sama sekali tidak diterima di Uni Emirat Arab. Pernyataan itu ditegaskan setelah kementerian luar negeri negara itu mengeluarkan pernyataan yang membantah bahwa Netanyahu pernah mengunjungi penguasa UEA Mohammed bin Zayed al-Nahyan.

Netanyahu lewat kantornya mengaku melakukan kunjungan 'rahasia' ke UEA pada bulan Maret, di tengah perang AS-Israel melawan Iran.

"Tidak ada sambutan sama sekali bagi seorang penjahat perang dan pembunuh anak-anak Gaza di tanah suci Emirat," tulis Abdulla, yang merupakan peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute di Washington, DC, di X pada hari Kamis.

"Kunjungan yang dibicarakan Netanyahu adalah rekayasa dari imajinasinya yang sakit, dan sudah diketahui bahwa dia adalah pembohong ulung yang menyebarkan kebohongan ini untuk melayani tujuan elektoral yang oportunistik."

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan bahwa hubungan UEA dengan Israel bersifat publik dan dijalankan dalam kerangka Kesepakatan Abraham yang terkenal dan diumumkan secara resmi. Hubungan tidak didasarkan pada pengaturan yang tak transparan atau bukan resmi.

Baik sumber Israel maupun Arab mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pertemuan antara Netanyahu dan Mohammed bin Zayed berlangsung pada 26 Maret di Al-Ain, sebuah kota oasis di perbatasan Oman.

Pada 27 Maret, sehari setelah pertemuan, Avi Scharf, editor intelijen sumber terbuka dan keamanan nasional Haaretz, memposting di media sosial bahwa dua jet bisnis Israel yang terkadang digunakan untuk penerbangan VVIP khusus telah mendarat di Al-Ain dan terbang kembali ke Israel empat jam kemudian, pada malam 26 Maret.

Pelacakan penerbangan lebih lanjut mengkonfirmasi bahwa dua jet bisnis telah terbang dari Tel Aviv ke Al-Ain, berangkat dari kota Israel tersebut pada sore hari dan kembali pada malam harinya.

UEA adalah negara Teluk pertama yang menandatangani Perjanjian Abraham dengan Israel pada tahun 2020, di bawah pemerintahan Trump pertama, dan berbagi banyak proyek militer dan intelijen bersama dengan Israel dan AS.

Sejak 28 Februari, perang AS-Israel melawan Iran telah semakin mempererat hubungan antara UEA dan Israel, sekaligus memperketat hubungan.

Read Entire Article
Politics | | | |