REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ketidakpastian global, DBS Research menilai sektor-sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi daya tarik utama investasi Indonesia, terutama ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur. Head of Research Indonesia DBS Group Research William Simadiputra menegaskan konsistensi arah kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing.
“Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” kata William dalam laporan berkala DBS Research yang dirilis pada Rabu (13/2/2026).
DBS Research juga mencatat kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Hal ini menunjukkan minat investasi domestik masih relatif terjaga meski pasar keuangan global bergejolak.
DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi prospek ekonomi global dan Indonesia. Risiko gangguan distribusi energi global dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran 80 sampai 85 dolar AS per barel. Namun, dalam skenario ekstrem, gangguan distribusi global berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga 100 sampai 150 dolar AS per barel.
Selain harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga produsen (producer price index/PPI), dan risiko cuaca akibat El Nino juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.
DBS Research juga menilai Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish.
DBS Research menilai penguatan institusi dan reformasi pasar keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Reformasi pasar modal, penguatan kepastian hukum, dan peningkatan tata kelola dinilai menjadi perhatian utama investor global.
Dalam menghadapi gejolak global, DBS Research merekomendasikan Indonesia perlu memperdalam pasar modal domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing melalui penguatan peran investor lokal, termasuk dana pensiun domestik, manajer investasi lokal, dan Danantara sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Di sisi keberlanjutan, pengembangan energi terbarukan dan proyek waste-to-energy (WTE) dinilai dapat memperkuat kredibilitas environmental, social, and governance (ESG) Indonesia di mata investor global.
Berdasarkan analisis DBS Research, menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah merupakan fondasi utama dalam mempertahankan kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global. Untuk mencapainya, pemerintah dan Bank Indonesia dituntut memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter secara lebih solid.
Di sisi lain, dunia usaha harus tetap waspada dan mulai mengantisipasi potensi kenaikan biaya produksi yang dipicu fluktuasi harga energi global.
Dalam upaya menjaga daya tarik investasi dan mendorong sumber pertumbuhan baru, Indonesia perlu mempertahankan konsistensi kebijakan hilirisasi serta mempercepat pengembangan ekosistem EV dan energi terbarukan. Selain itu, keberlanjutan proyek infrastruktur strategis tetap menjadi indikator krusial bagi kepercayaan investor jangka panjang.
Terakhir, penguatan fundamental ekonomi harus didukung reformasi pasar modal dan penguatan institusi yang lebih cepat, dibarengi peningkatan peran investor domestik demi stabilitas pembiayaan jangka panjang. Dengan mengintegrasikan agenda ESG dan transisi energi sebagai katalis, Indonesia berpeluang besar menciptakan iklim investasi yang lebih berkelanjutan pada masa depan.

1 hour ago
4

















































