Seekor burung berada di dekat tanggul pengaman laut di Muara Baru, Jakarta. Sebanyak 99 jenis burung dengan ratusan individu tercatat dalam sensus serentak Asian Waterbird Census (AWC) 2026 di tiga kawasan pesisir Jakarta. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 99 jenis burung dengan ratusan individu tercatat dalam sensus serentak Asian Waterbird Census (AWC) 2026 di tiga kawasan pesisir Jakarta. Hasil sensus ini menegaskan pentingnya ekosistem lahan basah ibu kota sebagai habitat krusial burung air di tengah tekanan urbanisasi dan degradasi lingkungan.
Kegiatan yang digelar pada 14 Februari 2026 itu melibatkan 83 relawan muda dari Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI, Saka Wanabakti, dan kelompok studi mahasiswa serta dilaksanakan di Hutan Lindung Angke Kapuk, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, serta Suaka Margasatwa Muara Angke. Pengamatan dilakukan serentak pukul 07.00–17.00 WIB sebagai bagian dari Asian Waterbird Census yang berlangsung di Indonesia sepanjang Januari–Februari 2026.
Di Hutan Lindung Angke Kapuk, tim mencatat 38 jenis burung dengan total 289 individu. Dari jumlah tersebut, 18 jenis merupakan burung air dengan total 206 individu. Sementara di Taman Wisata Alam Angke Kapuk ditemukan 34 jenis burung dengan total 117 individu, termasuk 12 jenis burung air sebanyak 54 individu. Adapun di Suaka Margasatwa Muara Angke tercatat 27 jenis burung dengan total 126 individu, dengan 13 jenis burung air berjumlah 42 individu.
Beberapa jenis burung air yang terpantau antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), pecukpadi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecukular asia (Anhinga melanogaster), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea). Kehadiran jenis-jenis tersebut menunjukkan kawasan pesisir Jakarta masih berfungsi sebagai habitat penting bagi burung air sekaligus menjadi indikator kesehatan ekosistem lahan basah.
Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI Rika Anggraini mengatakan, Asian Waterbird Census bukan sekadar kegiatan pengamatan burung, melainkan bagian dari mekanisme ilmiah pemantauan ekosistem lahan basah yang dilakukan secara serentak di tingkat global.
"Data yang dikumpulkan dari kawasan pesisir Jakarta akan berkontribusi pada pembaruan basis data nasional dan regional mengenai populasi burung air, yang sangat penting untuk mendeteksi tren penurunan, perubahan pola migrasi, hingga tekanan terhadap habitat," kata Rika dalam pernyataannya, Sabtu (21/2/2026).

3 hours ago
6















































