Revitalisasi Puasa Ramadhan

3 hours ago 5

Oleh : KH Asep Saefulloh, Pengasuh Pesantren Qolbun Salim Duren Mekar Bojongsari dan Dosen Tetap Fakultas Syari’ah Universitas Islam Depok

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Revitalisasi puasa Ramadhan artinya adalah upaya menghidupkan kembali, memperkuat, dan memperbarui makna serta tujuan ibadah puasa agar tidak hanya menjadi ritual tahunan yang bersifat formalitas, tetapi benar-benar membawa dampak nyata dalam kehidupan spiritual dan sosial. 

Berpuasa tidaklah sebatas menjaga nafsu dan syahwat. Puasa Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan sebuah revitalisasi rohani untuk melatih pengendalian diri dan menjauhi kemaksiatan sehingga mampu menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang dibenci oleh Allah, baik yang bisa dilakukan oleh mata, lisan, telinga, atau bagian tubuh yang lain. 

Menjaga diri agar tidak berkata hal-hal yang sia-sia, juga agar tidak mendengar apa yang diharamkan oleh Allah untuk dilakukan termasuk dalam makna luas puasa. Menjaga nafsu dan syahwat memang sudah cukup bagi ulama fiqh untuk memenuhi syarat sah puasa. Namun ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu.

Bagi muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan perlu mengetahui hakikat puasa dan tingkatannya. Jangan sampai kita termasuk golongan yang disebutkan Rasulullah SAW dalam sabda beliau: "Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja." (HR Ibnu Majah No 1690)," Sejatinya, hikmah berpuasa adalah hadirnya sifat taqwa dalam diri seorang muslim, karena puasa membiasakan seorang muslim untuk takut kepada Allah dalam kondisi sembunyi maupun ramai.

Berpuasa bisa menjadikan “perohanian jasmani” atau “peng-iman-an nafsu”. Iman menguasai nafsu, rohani menguasai jasmani, sehingga mampu menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang dimurkai oleh Allah, baik yang bisa dilakukan oleh mata, lisan, telinga, atau bagian tubuh yang lain. Menjaga diri agar tidak berkata hal-hal yang sia-sia, juga agar tidak mendengar apa yang diharamkan oleh Allah untuk dilakukan termasuk dalam makna luas puasa. 

Menjaga nafsu dan syahwat memang sudah cukup bagi ulama fiqh untuk memenuhi syarat sah puasa. Namun ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu. Puasa yang sah adalah puasa yang diterima. 

Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai. Lalu apa maksud dari berpuasa? Adalah berakhlak dengan akhlak terbaik, akhlak malaikat, akhlak para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW. Sejalan dengan makna ini ada sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat”. 

Tidak satu pun dari lima hal ini menunjukkan perilaku makan, minum, atau berhubungan suami istri. Namun mengapa kelimanya bisa membuat puasa seseorang tidak sah? Ini tentu berkaitan dengan makna sah itu sendiri; terwujudnya maksud puasa, untuk berakhlak mulia, dalam diri orang yang berpuasa. Jika seseorang telah melakukan puasa dengan sah, maka ketika ia menghadapi orang lain yang mengajaknya bercekcok atau sekedar menghinanya, ia hanya akan mengatakan pada dirinya “aku sedang berpuasa”.

Karena itulah, Ulama bergelar Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali menjelaskan tiga tingkatan orang puasa di bulan Ramadhan. Berikut penjelasannya dalam Kitab Ihya `Ulumuddin: Ketahuilah, bahwa puasa ada tiga tingkatan: (1) Puasanya orang umum (kebanyakan), (2) Puasa orang khusus, dan (3) Puasa Khusus Al-Khusus.

Puasa Orang Umum yakni sekadar menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari dorongan syahwat atau keinginan berjimak. Tingkatan ini merupakan puasanya kelas awam.

Puasa Orang Khusus, yakni menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan semua anggota badan dari berbagai dosa. Tingkatan ini masuk golongan kelas istimewa.

Sedangkan Puasa Khusus Al-Khusus yaitu puasanya hati dari hasrat dunia, pikiran tentang dunia, dan menahan diri dari apa pun selain Allah SWT. Tingkatan ini merangkumi puasa di atas dan disempurnakan pula dengan puasa hati dari semua keinginan lahir dan batin. Inilah tingkatan puasa paling istimewa.

Semoga kita termasuk golongan istimewa yang mendapatkan ridha dan ampunan Allah, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga saja," Sebagaimana penjelasan di atas, karena itulah pentingnya Revitalisasi puasa Ramadhan, yang mencakup beberapa aspek penting yaitu:

Pemurnian Jiwa dan Peningkatan Spiritualitas: Puasa menjadi kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta meningkatkan hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah yang lebih intensif seperti shalat, zikir, dan membaca Al-Qur'an.

Pengendalian Diri dan Disiplin: Revitalisasi berarti melatih diri untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan buruk, amarah, iri hati, dan perkataan sia-sia, sehingga membentuk pribadi yang lebih disiplin dan sabar.

Peningkatan Kepedulian Sosial: Puasa mengingatkan pada kondisi mereka yang kekurangan, sehingga membangkitkan rasa empati dan mendorong umat Muslim untuk lebih dermawan dan peduli terhadap sesama, baik secara materi maupun non-materi.

Transformasi Nilai dalam Kehidupan Sehari-hari: Tujuan utama revitalisasi adalah agar nilai-nilai positif yang diperoleh selama Ramadhan dapat diinternalisasi dan diimplementasikan secara konsisten di luar bulan Ramadhan, sehingga puasa tidak berlalu tanpa makna yang mendalam. 

Secara ringkas, revitalisasi puasa Ramadhan adalah mengembalikan esensi puasa sebagai sarana mencapai derajat ketakwaan (takwa) yang paripurna, bisa mencapai tingkatan puasa khusus atau yang lebih khusus bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Wallahu a’lam

Read Entire Article
Politics | | | |