REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menyampaikan testimoni tentang sosok Presiden Prabowo Subianto.
Dia menyatakan tidak semua manusia tumbuh dalam ketenangan yang sama. Sebagian dibesarkan oleh satu tempat yang menetap, sebagian lain oleh perjalanan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Dia menyebut dalam kehidupan Prabowo Subianto, yang bekerja sejak awal bukanlah kemapanan, melainkan perpindahan. Hidup menempatkannya dalam perubahan terus-menerus, memaksanya memahami dunia lebih cepat, sebelum usia memberi cukup waktu untuk ragu.
Azis menjelaskan, sejak kecil, Prabowo mengikuti irama hidup ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, seorang ekonom dan pemikir yang hidupnya kerap bersinggungan dengan kekuasaan—kadang berada di pusatnya, kadang di luarnya.
Perpindahan dari Jakarta ke berbagai kota di luar negeri membuat masa kecil Prabowo jauh dari rasa menetap. Sekolah berganti, lingkungan berubah, dan dunia datang tanpa janji kenyamanan.
“Dalam situasi seperti ini, seorang anak belajar lebih awal bahwa hidup tidak selalu memberi waktu untuk bersiap, kata dia, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Dia mengatakan, dari pengalaman itu tumbuh kebiasaan membaca keadaan dan mengambil sikap. Ketegasan lahir bukan karena keinginan mendominasi, melainkan karena perubahan yang terlalu cepat sering menghukum keraguan. ”Dunia yang terus bergerak menuntut kejelasan. Bukan kesempurnaan, tetapi keberanian memilih,” ujar dia.
Azis melanjutkan, di rumah, Prabowo menyaksikan ayahnya hidup bersama gagasan. Ia juga melihat bagaimana gagasan tidak selalu diterima dengan ramah oleh kekuasaan. Dari sana tertanam pemahaman sederhana namun menentukan yakni berpikir dan bersikap memiliki harga.
“Kebenaran tidak selalu datang bersama tepuk tangan. Pengalaman ini membentuk sikap yang tidak mudah silau pada kekuasaan, tetapi juga tidak memusuhinya secara membuta,” ujar Azis.
Dari ibunya, Dora Marie Sigar, datang nilai yang lebih membumi. Kejujuran, keberanian, dan keterbukaan tidak diperlakukan sebagai slogan, melainkan sebagai kebiasaan. Berbicara apa adanya, berdiri pada pilihan, dan menerima konsekuensi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Sikap lugas yang kelak sering terlihat pada Prabowo bukanlah hasil perhitungan politik, melainkan watak yang tumbuh dari rumah,” kata dia.
Menurut dia, kesadaran tentang urusan publik juga hadir secara halus melalui keluarga. Nama kakeknya, Margono Djojohadikusumo, tidak muncul sebagai pengajar teori negara, tetapi sebagai ingatan tentang generasi yang pernah mengambil pilihan sulit di ruang publik.
“Dari cerita-cerita keluarga itu tumbuh pemahaman bahwa keterlibatan dalam urusan bersama tidak pernah ringan, dan bahwa tanggung jawab sering datang tanpa jaminan penghargaan,” kata Azis.
Ketika kemudian Prabowo Subianto memilih jalan militer, kata dia, keputusan itu terasa masuk akal. Militer menawarkan kejelasan dalam hidup yang sejak awal penuh perubahan: peran jelas, disiplin tegas, dan tanggung jawab nyata.

2 hours ago
1














































