Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan kesepakatan dagang Indonesia–Amerika Serikat (AS) akan memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya melalui peningkatan impor liquefied petroleum gas (LPG) dari AS.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan kesepakatan dagang Indonesia–Amerika Serikat (AS) akan memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya melalui peningkatan impor liquefied petroleum gas (LPG) dari AS. Simon menyampaikan selama ini Pertamina mengimpor LPG dalam jumlah besar dari AS dengan porsi sekitar 57 persen.
“Dengan adanya kesepakatan dagang ini, tentunya kita akan bisa meningkatkan, bisa sampai ke 70 persen,” ucapnya dalam konferensi pers virtual dari Washington D.C., Jumat (20/2/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor LPG Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 3,8 miliar dolar AS atau setara Rp 64,1 triliun (kurs Rp 16.888 per dolar AS).
Dari jumlah tersebut, impor dari AS mendominasi dengan nilai sekitar 2,03 miliar dolar AS atau Rp 34,3 triliun, mencakup sekitar 53 persen dari total impor atau 3,94 juta ton.
Adapun negara kedua penyumbang impor LPG bagi Indonesia adalah Qatar dengan nilai 0,4 miliar dolar AS (Rp 6,7 triliun) atau 11 persen, disusul Uni Emirat Arab (UEA) sebesar 0,39 miliar dolar AS (Rp 6,6 triliun) atau 10 persen.
Selain LPG, Simon juga menyatakan Pertamina akan mendorong peningkatan impor minyak mentah (crude oil) dari AS. Sementara untuk produk olahan minyak akan dilakukan penjajakan dengan mitra-mitra di Amerika.
Lebih lanjut, ia menjelaskan impor energi senilai 15 miliar dolar AS (Rp 253,3 triliun) dari AS merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber energi untuk menjamin pasokan dengan harga kompetitif.
“Selain sumber dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, kita juga melihat peluang besar dari Amerika Serikat,” katanya.
sumber : ANTARA

3 hours ago
6















































