REPUBLIKA.CO.ID, TEPI BARAT – Sebuah masjid dibakar dan diberi coretan pesan-pesan ancaman pada Senin pagi di desa Tell, selatan Nablus di bagian utara Tepi Barat. Serangan yang dilakukan pemukim ekstremis Israel itu beberapa hari setelah mereka juga merusak gereja Kristen di Tepi Barat.
Rekaman yang diterbitkan oleh media Palestina menunjukkan pintu masuk masjid Abu Bakr al-Siddiq yang hangus, dan kalimat Ibrani “balas dendam” dan “label harga” dicat hitam di dinding luarnya.
Outlet berita Palestina Ma'an mengatakan kebakaran terjadi di pintu masuk masjid dan merusak gerbang serta bagian luarnya sebelum penduduk setempat memadamkan api.
Ekstremis pemukim sering menyebut kekerasan terhadap warga Palestina sebagai “harga” atas serangan warga Palestina dan pembongkaran pos-pos pemukim oleh pasukan Israel.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Wakaf Keagamaan Otoritas Palestina mengatakan “upaya untuk membakar masjid jelas menunjukkan kebiadaban yang dilakukan oleh mesin hasutan rasis Israel terhadap tempat-tempat suci Muslim dan Kristen di Palestina.”
Menurut kementerian, pemukim menyerang 45 masjid di Tepi Barat tahun lalu. Angka tersebut tidak dapat segera diverifikasi.
Serangan terhadap masjid Abu Bakr al-Siddiq, beberapa hari memasuki bulan suci Ramadhan, terjadi setelah pesan-pesan nasionalis Yahudi termasuk “balas dendam” ditemukan pada Kamis di dinding Gereja Visitasi, sebuah situs suci Kristen terkemuka di Yerusalem.
Serangan pemukim di Tepi Barat telah meningkat sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang dibalas Israel dengan pembalasan genosidal sepanjang dua tahun belakangan. Pada Rabu, seorang warga Palestina berusia 19 tahun ditembak dan dibunuh dalam serangan pemukim di desa Mukhmas di Tepi Barat tengah.
Militer Israel mengatakan pasukan dan petugas polisi dikirim ke desa tersebut menyusul “laporan dan dokumentasi yang diterima secara retrospektif mengenai tersangka yang membakar sebuah masjid dan menyemprotkan grafiti.” “Pasukan mulai mencari para tersangka, dan insiden tersebut sedang diselidiki oleh otoritas keamanan,” kata IDF.
Namun, selama ini serangan pemukim yang terjadi hampir setiap hari, sebagian besar tidak ditindak. Penuntutan terhadap ekstremis Yahudi jarang terjadi, dan hukuman bahkan lebih jarang lagi. Kritikus menuduh pemerintah, yang digambarkan sebagai pemerintah paling garis keras dalam sejarah Israel, mengabaikan serangan tersebut.
Data yang diterbitkan oleh badan keamanan IDF dan Shin Bet bulan lalu menunjukkan peningkatan serangan pemukim sebesar 27 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain peningkatan serangan pemukim secara keseluruhan, pada tahun 2025 juga terdapat peningkatan jumlah insiden parah, termasuk penembakan, pembakaran, dan kejahatan kekerasan lainnya. Sebanyak 128 insiden terjadi tahun lalu, dibandingkan dengan 83 pada tahun 2024 dan 54 pada tahun 2023.

2 hours ago
5












































