Kolaborasi Hijau Papua ASRI: Menimbun Sampah, Menanam Masa Depan

3 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Suara dentuman pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Sentani berbaur dengan deru mesin pengangkut sampah di belakang terminal. Di tempat yang setiap harinya melayani ribuan penumpang ini, sebanyak tiga ton sampah menanti untuk dikelola.

Sekitar 40 persen di antaranya adalah sampah organik, sisa makanan, daun, dan limbah dapur yang jika tidak segera ditangani akan menimbulkan bau tak sedap dan mengganggu kenyamanan. Bandara ini, gerbang udara menuju tanah Cenderawasih, tengah berbenah.

Harrys Hutahaean dari Department Health Bandara Internasional Sentani menjelaskan bahwa pengelola telah menyediakan tiga tempat pembuangan sementara dan sepuluh drop box di berbagai titik. Sampah yang terkumpul dipilah, lalu diangkut ke TPS sebelum dikirim ke tempat pembuangan akhir. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi didorong untuk didaur ulang melalui kerja sama dengan UMKM dan bank sampah. "Kami juga menerapkan sistem skylight pada bangunan terminal agar cahaya matahari masuk maksimal, mengurangi konsumsi listrik. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga efisiensi operasional," ujarnya.

Upaya di bandara internasional itu hanyalah satu potret kecil dari persoalan besar yang dihadapi Bumi Cenderawasih. Di tingkat provinsi, data menunjukkan angka yang mencengangkan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Yaconias Maintindom mengungkapkan, dengan jumlah penduduk 1,07 juta jiwa di sembilan kabupaten dan kota pada 2025, serta asumsi produksi sampah 0,4 kilogram per orang per hari, total timbunan sampah di Provinsi Papua mencapai sekitar 477 ton per hari.

"Angka sebesar itu harus dikelola secara serius oleh seluruh kabupaten, kota, dan lapisan masyarakat," tegas Maintindom. Pemerintah Provinsi Papua tengah menyusun peta jalan pengelolaan sampah yang akan memuat data timbunan, strategi pengurangan, pengangkutan, pengolahan, hingga pengawasan. "Setiap kabupaten dan kota harus menghitung dengan benar jumlah sampah mereka. Dari data itu, kebijakan bisa tepat sasaran."

Namun, diakui Maintindom, sektor lingkungan hidup masih menghadapi keterbatasan anggaran. Bahkan di beberapa daerah, alokasinya sangat minim. Meski demikian, ia menekankan bahwa keterbatasan dana tidak boleh menjadi alasan untuk tidak bertindak. "Perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah tangga: memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik dan nonorganik yang tercampur membuat pengolahan sulit dan tidak efisien."

Jika sampah organik dipisahkan, ia bisa menjadi pupuk atau pakan ternak. Plastik dan nonorganik lainnya bisa didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi. Karena itu, kunci utama penanganan sampah, menurut Maintindom, terletak pada kesadaran dan kapasitas sumber daya manusia di tingkat RT, RW, dan kampung.

Pemerintah Provinsi Papua pun mengingatkan agar dana kampung tidak hanya difokuskan pada infrastruktur, tetapi juga dialokasikan untuk membangun kesadaran lingkungan. "Tempat yang bagus akan percuma jika lingkungannya buruk. Semua harus ditangani secara seimbang. Kami berharap kepala-kepala kampung melihat persoalan sampah sebagai isu penting. Kalau edukasi sampai ke tingkat bawah, perubahan akan lebih cepat," imbuhnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |