REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini tengah mempercepat implementasi kedokteran presisi melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI). Langkah ini diambil sebagai solusi atas lonjakan pembiayaan kesehatan akibat penyakit kronis melalui pendekatan pengobatan berbasis profil genetik individu yang lebih akurat dan efisien.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa teknologi genomik yang dikelola oleh Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) memungkinkan pemeriksaan kesehatan menjadi sangat personal. Transformasi ini menjadi titik balik penting dalam mengubah paradigma lama dari sistem pengobatan "satu obat untuk semua".
"Pemeriksaan kesehatan kita akan menjadi jauh lebih akurat, lebih presisi, dan lebih personal. Otomatis pengobatannya juga bisa lebih tepat sasaran dan efektif dalam menyembuhkan," ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Jumat.
Hingga awal tahun 2026, Program BGSI tercatat telah berhasil merekrut lebih dari 20 ribu partisipan dan memproduksi 16 ribu sequence whole genome manusia. Genome sequencing sendiri merupakan proses pengurutan nukleotida DNA dari suatu genom organisme untuk memetakan kondisi kesehatan seseorang.
Capaian tersebut dipandang bukan sekadar angka riset belaka, melainkan merupakan basis data krusial bagi pemerintah. Data ini diharapkan mampu menjadi instrumen utama untuk menekan angka pemborosan dalam anggaran kesehatan nasional.
Saat ini, implementasi BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai pusat jejaring (hubs). Ke depan, integrasi data genomik ini diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam membangun sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan mandiri.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, turut menyoroti kaitan erat antara teknologi genomik dengan ketahanan fiskal negara. Ia menilai terapi yang tepat sasaran akan memangkas biaya pengobatan yang selama ini membengkak akibat diagnosis yang tidak akurat.
"Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif," ungkap Wamen Febrian menjelaskan dampak ekonomi dari inovasi ini.
Namun demikian, Febrian memberikan catatan bahwa proyek ambisius ini bagaikan lari maraton. Menurutnya, inisiatif ini membutuhkan konsistensi serta komitmen jangka panjang dari seluruh pihak, bukan sekadar mengejar hasil instan.
Dukungan senada juga datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong agar inisiatif genomik ini tidak hanya berhenti pada ranah medis, tetapi juga diperluas untuk mengelola kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia secara lebih luas.
Luhut menegaskan bahwa optimasi sumber daya genetik nasional adalah kunci strategis masa depan. "Potensi sumber daya genetik kita harus dikelola secara optimal," pungkasnya, merujuk pada pengaruhnya terhadap ketahanan kesehatan, pangan, hingga ekonomi nasional.
sumber : Antara

2 hours ago
2














































