Ibadah Unggulan Ramadhan, Mengubah Sedekah Sesaat Menjadi Wakaf Abadi

2 hours ago 4

Oleh : Jaharuddin, Ekonom Universitas Muhammadiyah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan selalu menghadirkan lonjakan kebaikan. Masjid penuh, tangan-tangan terbuka, zakat dan sedekah mengalir deras. Dalam satu bulan, umat Islam menunjukkan wajah solidaritas sosial yang begitu kuat.

Namun di balik gelombang filantropi yang mengharukan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur, berapa banyak dari “banjir kebaikan” Ramadhan yang benar-benar kita ubah menjadi fondasi kemaslahatan jangka panjang?

Kita terbiasa menjadikan Ramadhan sebagai bulan memberi. Tetapi sudah saatnya ia juga menjadi bulan membangun. Di sinilah wakaf menempati posisi unik. Ia menggabungkan puncak spiritual Ramadhan dengan logika keberlanjutan.

Jika sedekah adalah respons cepat atas kebutuhan hari ini, maka wakaf adalah strategi agar kebutuhan itu tidak terus berulang dari tahun ke tahun. Wakaf bukan sekadar ibadah tambahan; ia ibadah unggulan—memadukan pahala berlipat dengan dampak tak putus.

Mengapa Ramadhan Momentum Paling Strategis untuk Wakaf

Pertama, Ramadhan puncak energi spiritual. Iman menguat, empati meninggi, dan kesadaran akhirat terasa dekat.

Pada saat seperti ini, umat lebih mudah diajak melampaui dorongan “memberi yang instan” menuju niat lebih visioner, membangun sistem kebaikan yang terus mengalir. Wakaf membutuhkan cara pandang jangka panjang—dan Ramadhan menyediakan atmosfer batin yang mendukung lahirnya cara pandang itu.

Kedua, Ramadhan puncak solidaritas sosial. Masjid, majelis taklim, pesantren, hingga lembaga filantropi bergerak intens. Ada jaringan sosial yang hidup dan aktif—modal kolektif yang jarang ditemukan pada bulan lain.

Wakaf akan tumbuh subur justru ketika ekosistem ajakan, edukasi, dan mobilisasi bergerak serentak. Ramadhan memberi “panggung sosial” bagi wakaf untuk menjadi agenda bersama umat.

Ketiga, ada dimensi ekonomi yang sering luput kita kritisi secara produktif. Ramadhan—ironisnya—juga bulan meningkatnya konsumsi, belanja pangan, pakaian, acara buka bersama, hingga berbagai pengeluaran musiman.

Tidak ada yang salah dengan tradisi itu selama tidak melampaui batas. Namun, dari sudut pandang pembangunan umat, lonjakan konsumsi tersebut menyimpan peluang besar, jika sebagian kecil saja dialihkan menjadi wakaf produktif.

Maka, Ramadhan dapat menjadi “bulan akumulasi aset umat”, bukan sekadar bulan perputaran belanja. Di sini kita perlu jujur, filantropi Ramadhan selama ini lebih banyak meredakan gejala daripada menyentuh akar. Paket pangan menolong hari ini, tetapi tidak selalu mengubah struktur yang membuat seseorang rentan setiap tahun.

Wakaf menawarkan lompatan, dari bantuan satu kali menuju fasilitas dan aset yang menurunkan kerentanan itu secara permanen—melalui pendidikan, layanan kesehatan, penciptaan kerja, dan penyediaan layanan dasar.

Keempat, dari sisi kelembagaan, Ramadhan puncak kampanye dan penghimpunan dana sosial. Artinya, biaya sosial untuk mengajak umat berwakaf lebih rendah karena perhatian publik sedang tinggi. Sayangnya, peluang ini sering tidak dimaksimalkan karena wakaf masih diposisikan sebagai menu tambahan, bukan arus utama.

Padahal yang dibutuhkan bukan mengganti sedekah, melainkan menggeser sebagian porsi filantropi dari konsumtif menuju produktif—agar kebaikan Ramadhan tidak “habis di kalender”, tetapi menjadi investasi akhirat yang juga membangun dunia.

Dari Kedermawanan Sesaat ke Infrastruktur Kemaslahatan

Alasan wakaf sering tidak meledak seperti sedekah bukan karena umat kurang dermawan, melainkan karena hambatan desain, literasi, kepercayaan, dan model program.

Banyak orang masih membayangkan wakaf sebagai tanah untuk masjid atau makam—mulia, tetapi terbatas. Mereka juga mengira wakaf harus besar dan rumit. Ditambah lagi, ada keraguan publik yang tidak bisa diabaikan.

Apakah nazhir dikelola profesional? Apakah laporan jelas? Apakah dampaknya terukur? Jika ingin menjadikan wakaf sebagai ibadah unggulan Ramadhan, maka tantangan tersebut harus dijawab secara sistemik.

Pertama, wakaf harus dipahami sebagai instrumen pembangunan yang kompatibel dengan zaman. Wakaf uang memungkinkan partisipasi massal dengan nominal kecil tetapi konsisten.

Pada skala umat, kunci utamanya bukan “nominal besar per orang”, melainkan “disiplin kolektif”. Di sinilah Ramadhan menjadi medan latihan. Jika umat mampu disiplin menahan lapar dan dahaga, semestinya mampu pula disiplin menahan sebagian pengeluaran untuk aset jangka panjang umat.

Kedua, wakaf harus diarahkan pada problem riil dengan desain dampak yang jelas. Wakaf pendidikan tak sekadar “sumbangan untuk sekolah”, tetapi skema berkelanjutan, beasiswa, peningkatan kualitas guru, penguatan sarana belajar, hingga dukungan riset dan keterampilan kerja.

Wakaf kesehatan tidak berhenti pada pengadaan alat, tetapi menciptakan layanan terjangkau yang menekan biaya berobat keluarga miskin.

Wakaf produktif—yang paling strategis—mengubah aset menjadi sumber pendapatan, ruko, lahan pertanian, unit usaha halal, atau instrumen yang dikelola amanah dan profesional; hasilnya menghidupi program sosial tanpa bergantung pada donasi musiman.

Dengan kata lain, sedekah yang baik menyelesaikan masalah hari ini. Wakaf yang baik mencegah masalah yang sama terulang besok.

Ketiga, wakaf membutuhkan tata kelola setingkat “amanah besar”. Ini bukan wilayah romantisme, tetapi profesionalisme. Transparansi laporan berkala, audit, pelacakan dampak, dan manajemen risiko adalah syarat mutlak.

Tanpa itu, wakaf akan terus kalah narasi dibandingkan sedekah yang efeknya cepat terlihat. Justru karena wakaf bersifat jangka panjang, ia harus lebih akuntabel—bukan kurang.

Keempat, diperlukan strategi praktis agar wakaf Ramadhan mudah dilakukan. Pada level individu kuncinya sederhana, tetapkan porsi tetap. Bahkan 1-5 persen dari belanja Ramadhan, jika konsisten dan dilakukan jutaan orang, bisa jadi kekuatan ekonomi umat yang nyata.

Pada level masjid dan komunitas, Ramadhan harus menjadi bulan literasi wakaf, khutbah dan kajian bukan hanya mengajak memberi, tetapi mengajak membangun. Buat program wakaf spesifik—misalnya wakaf beasiswa, wakaf klinik, wakaf usaha mikro—dengan target, timeline, dan laporan terbuka.

Pada level lembaga, wakaf perlu dikemas dengan “produk ibadah” yang mudah, nominal terjangkau, pembayaran digital, opsi autodebet, dan narasi yang menekankan dampak jangka panjang.

Sementara pada level kebijakan, percepatan layanan administrasi dan standardisasi pelaporan nazir akan memperkuat kepercayaan publik. Pada titik ini, kita perlu menempatkan wakaf pada posisi yang tepat, ia bukan saingan sedekah, melainkan penyempurna ekosistem filantropi. Sedekah menjaga umat tetap bertahan; wakaf membuat umat punya pijakan untuk bangkit.

Sedekah memadamkan kebakaran, wakaf membangun sistem agar kebakaran tidak mudah terulang.

Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya bulan ritual—ia laboratorium peradaban. Pertanyaannya, apakah kita ingin kebaikan Ramadhan berhenti pada euforia sebulan atau mengubahnya menjadi institusi kebaikan yang bekerja sepanjang tahun?

Sedekah Ramadhan adalah nyala api kebaikan. Tetapi wakaf adalah tungku yang menjaga api itu tetap hidup.

Jika kita sungguh ingin kemiskinan tidak diwariskan, pendidikan tidak menjadi kemewahan, dan kesehatan tidak menjadi ketakutan bagi keluarga dhuafa, maka wakaf harus menjadi agenda utama Ramadhan, ibadah unggulan yang cerdas, berdampak, dan abadi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |