Diambang Perang, Iran Mulai Kubur Fasilitas Nuklir

3 hours ago 5

Pembangkit pengayaan nuklir Natanz di Iran.

REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Iran dilaporkan tengah membangun perisai beton di atas fasilitas militer baru yang terbilang sensitif seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Citra satelit pun mengungkap bagaimana Iran menimbun situs tersebut dengan tanah.

Upaya perlindungan terhadap fasilitas militer tersebut dilakukan di lokasi yang sebelumnya menjadi target serangan udara Israel pada 2024, lapor Al Jazeera, Kamis (19/2/2026).

Selain membangun benteng perlindungan di kompleks Parchin, citra tersebut menunjukkan bahwa Iran telah mengubur pintu masuk terowongan di situs nuklir Isfahan—yang sempat dibom Washington tahun lalu. Teheran juga memperkuat akses terowongan di dekat Natanz dan memperbaiki pangkalan rudal yang rusak akibat konflik.

Kompleks Parchin, yang terletak sekitar 30 km di tenggara Teheran, merupakan salah satu situs militer paling rahasia di Iran. Institute for Science and International Security (ISIS) dalam analisisnya pada 22 Januari menyebut adanya kemajuan signifikan dalam pembangunan "sarkofagus beton" di sekitar fasilitas baru yang diidentifikasi sebagai Taleghan 2.

Pendiri ISIS, David Albright, menyatakan melalui platform X bahwa Iran memanfaatkan waktu di tengah negosiasi yang mandek untuk menyembunyikan fasilitas tersebut. "Fasilitas ini akan segera menjadi bunker yang tidak dapat dikenali lagi, memberikan perlindungan signifikan dari serangan udara," tulis Albright.

Laporan intelijen juga menunjukkan upaya Iran untuk mengubur dua pintu masuk terowongan di kompleks Isfahan—satu dari tiga pabrik pengayaan uranium Iran yang dibom AS pada Juni lalu. Hingga awal Februari, seluruh akses ke kompleks terowongan tersebut dilaporkan telah "terkubur sepenuhnya".

Sementara itu,  Iran terus melakukan upaya untuk "mengeraskan dan memperkuat pertahanan" pada dua pintu masuk terowongan di Natanz yang berada di bawah pegunungan yang berjarak sekitar dua kilometer dari pabrik pengayaan uranium utama lainnya.

Read Entire Article
Politics | | | |