REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Intelijen Amerika Serikat ternyata telah mengetahui rencana sabotase Ukraina terhadap jalur pipa Nord Stream jauh lebih awal dari yang pernah dilaporkan sebelumnya. Demikian temuan terbaru Der Spiegel yang kembali mengguncang narasi resmi seputar salah satu aksi sabotase infrastruktur terbesar dalam sejarah modern Eropa.
Menurut majalah Jerman itu, petugas CIA bertemu langsung dengan agen Ukraina pada musim semi 2022, berbulan-bulan sebelum ledakan terjadi, untuk membahas rencana penghancuran pipa yang selama ini mengalirkan gas alam Rusia ke Jerman di sepanjang dasar Laut Baltik.
Sumber-sumber Ukraina menyebut para pejabat Amerika awalnya merespons positif dan bahkan terlibat dalam diskusi teknis mengenai operasi tersebut. Namun belakangan, CIA berbalik arah dan memperingatkan agar rencana itu tidak dilanjutkan. Juru bicara CIA membantah keras, menyebut klaim tersebut "sama sekali tidak benar." Der Spiegel tetap mempertahankan laporannya, mengutip informasi yang mereka nilai kredibel dari berbagai sumber independen, sebagaimana diberitakan juga oleh TRT World.
Pengungkapan ini menambah lapisan baru pada misteri yang hingga hari ini belum terpecahkan secara hukum: siapa sesungguhnya yang memerintahkan penghancuran Nord Stream?
Apa Itu Nord Stream, dan Mengapa Eropa Sangat Bergantung Padanya?
Untuk memahami besarnya guncangan yang ditimbulkan ledakan itu, perlu dipahami dulu apa yang sesungguhnya hancur di kedalaman 80 meter Laut Baltik malam itu. Nord Stream dan Nord Stream 2 adalah dua jalur pipa gas bawah laut yang membentang sepanjang masing-masing 1.224 km dan 1.200 km, langsung dari Rusia ke Jerman tanpa melewati negara transit mana pun.
Masing-masing jalur terdiri dari dua pipa, dengan total kapasitas desain mencapai 110 miliar meter kubik gas per tahun. Nilai investasi keseluruhan proyek ini mencapai €7,4 miliar (Rp146.941.800.000.000/Seratus empat puluh enam triliun sembilan ratus empat puluh satu miliar delapan ratus juta Rupiah), sebuah angka yang mencerminkan betapa seriusnya Eropa membangun ketergantungan energi jangka panjang dengan Rusia.
Bagi Eropa, Nord Stream bukan sekadar pipa gas. Ia adalah jaminan pasokan energi yang murah, stabil, dan terprediksi selama lebih dari satu dekade.
Gas Rusia yang mengalir melalui Nord Stream menjadi tulang punggung industri Jerman, menggerakkan pabrik-pabrik, memanaskan jutaan rumah tangga, dan menekan biaya produksi hingga titik yang membuat manufaktur Eropa mampu bersaing secara global.
Nord Stream mulai dibangun pada 2010 dan beroperasi secara komersial sejak 2012, sementara Nord Stream 2 selesai dibangun September 2021, meski tak pernah sempat beroperasi karena Jerman menangguhkan sertifikasinya menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

3 hours ago
4















































