Gumoh pada Bayi Kerap Menimbulkan Kekhawatiran Orang Tua

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Regurgitasi atau gumoh pada bayi kerap menimbulkan kekhawatiran orang tua dan sering disalahartikan sebagai penyakit. Padahal, secara medis, regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) merupakan kondisi fisiologis yang umum terjadi pada bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan.

Isu ini menjadi fokus utama dalam Media Gathering & Health Talk yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro, yang turut dihadiri oleh dr. Relia Sari, MARS, selaku Chief Executive Officer (CEO). Menurut dia, edukasi kesehatan anak berbasis bukti ilmiah merupakan bagian dari komitmen RS Premier Bintaro dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.

Peran media dinilai penting untuk membantu menyampaikan informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat, khususnya kepada orang tua. "Berdasarkan data klinis yang dipaparkan dalam kegiatan ini, sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3-4 bulan, dan umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan," ucpnya dalam siaran pers di Jakarta, Kmi (5/2/2026).

Kondisi itu dikenal sebagai happy spitter, yaitu bayi yang tetap ceria, menyusu dengan baik, dan tumbuh normal meskipun sering mengalami gumoh. Namun demikian, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang berbeda dan jauh lebih jarang, dengan prevalensi sekitar 3–8 persen.

GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara terlalu sering atau terlalu lama. Sehingga dapat menyebabkan peradangan esofagus (esofagitis) dan komplikasi lain seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi disertai darah, hingga gangguan kualitas hidup anak.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menegaskan, tantangan terbesar di lapangan adalah membedakan regurgitasi fisiologis dengan GERD. "Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan," jelasnya.

Read Entire Article
Politics | | | |