Presiden AS Donald Trump saat berpidato di depan Majelis Umum PBB di New York pada 23 September 2025. Dalam pidato itu, Trump meremehkan badan dunia tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Dolar AS melemah pada Senin (23/2/2026) setelah pelaku pasar menilai keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif Presiden Donald Trump sebagai sentimen positif bagi pertumbuhan global. Namun, kebingungan kebijakan dan risiko konflik di Timur Tengah membuat pergerakan pasar relatif terbatas.
Euro naik 0,4% ke level 1,1823 dolar AS dan poundsterling menguat dengan persentase serupa ke 1,3521 dolar AS pada awal perdagangan Asia. Volume transaksi cenderung tipis karena libur di Jepang serta perayaan Tahun Baru Imlek di China. Dolar juga melemah 0,4% terhadap yen ke level 154,42.
Pada Jumat, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa tarif besar-besaran yang diberlakukan Trump melampaui kewenangannya. Trump merespons dengan mengecam pengadilan dan menerapkan tarif menyeluruh 15% atas impor, serta menegaskan bahwa kesepakatan dagang bertarif tinggi dengan mitra dagang tetap harus berlaku.
“Ini melemahkan dolar dalam arti berpotensi mendukung pertumbuhan di luar AS,” kata Sim Moh Siong, analis strategi mata uang di OCBC Bank, Singapura.
Ia menambahkan, implikasi jangka panjang terhadap pasar valuta asing masih belum jelas. Namun ada risiko penurunan pendapatan AS yang berpotensi membebani posisi fiskal dan dolar, sementara pembatasan terhadap kewenangan Trump bisa menjadi sentimen positif karena mengurangi volatilitas kebijakan.
Dolar Selandia Baru dan dolar Australia sedikit menguat pada perdagangan pagi, dengan dolar Australia menembus 71 sen AS dan dolar Selandia Baru mendekati 60 sen AS. Sementara itu, franc Swiss yang dianggap aset lindung nilai naik 0,5% menjadi 0,7716 franc per dolar.
“Keputusan ini mengurangi sebagian kekuasaan Trump, dan itu positif bagi pasar,” kata Jason Wong, analis di BNZ Wellington. Namun, ia menilai terlalu banyak faktor yang bergerak bersamaan sehingga situasi sulit dimanfaatkan untuk transaksi jangka pendek.
Selain isu tarif, pasar juga mencermati peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah saat Washington menekan Iran agar menghentikan upaya pengembangan senjata nuklir. Investor juga menantikan pidato kenegaraan Trump pada Selasa (24/2/2026).
sumber : Reuters

2 hours ago
4















































