Program Makan Bergizi Gratis Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Sektor Pertanian

4 hours ago 7

Siswa memegang ompreng berisi makan bergizi gratis (MBG) di SD Negeri 1 Tualang Cut, Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Senin (26/1/2026). Sebanyak 324 orang siswa di sekolah tersebut kembali menikmati menu makan bergizi gratis (MBG) yang sempat terhenti akibat bencana banjir bandang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah menjadi motor penggerak baru bagi sektor pertanian dan ekosistem ekonomi inklusif.

Melalui penyerapan produk lokal oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), program ini berhasil menciptakan dampak makro dan mikro yang signifikan.

Secara makro, perekonomian nasional pada kuartal ke-4 tahun 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen (yoy). Salah satu pendorong utamanya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,12 persen (yoy). Di level sektoral, pertumbuhan sektor pertanian melonjak drastis mencapai 5,33 persen pada 2025, berbanding jauh dari tahun 2024 yang hanya 0,68 persen dan tahun 2023 sebesar 1,31 persen.

"Pertumbuhan sektor pertanian tahun lalu merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir karena produknya terserap langsung oleh SPPG," ujar Fithra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Ia menambahkan bahwa para mitra pengelola SPPG dan pengusaha kini mulai berinvestasi pada sektor hulu seperti pertanian dan peternakan. Langkah ini menjadi solusi jangka panjang agar kebutuhan pangan MBG tidak mengganggu stabilitas harga pasar sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas petani lokal.

Pemberdayaan Perempuan dan Penyerapan Tenaga Kerja

Selain sektor pertanian, MBG memberikan dampak langsung pada peningkatan rantai nilai (value chain) di tingkat UMKM serta mendorong partisipasi aktif perempuan. Hingga 20 Februari 2026, tercatat sebanyak 23 ribu unit SPPG telah dibangun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 1,4 juta orang.

Data internal Badan Gizi Nasional menunjukkan bahwa sekitar 55 persen atau 770 ribu pekerja di dapur SPPG adalah perempuan. "Program MBG ini jauh lebih inklusif. Partisipasi perempuan menjadi lebih terlihat karena di sektor kuliner peran mereka cenderung dominan. Ini memberikan peluang ekonomi nyata dan meningkatkan pendapatan rumah tangga," jelas Fithra.

Efisiensi Anggaran Rumah Tangga dan Respon Positif Orang Tua

Dampak positif MBG juga dirasakan langsung oleh masyarakat dari sisi pengeluaran. Berdasarkan survei Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) terhadap 1.800 orang tua, ditemukan bahwa MBG terbukti mengefisiensi anggaran rumah tangga.

Read Entire Article
Politics | | | |