REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di awal Februari, Istanbul menyapa dengan selimut mendung yang tebal dan gerimis yang tak kenal lelah. Langit kelabu seolah menggelar sayembara lari kecil-kecilan dengan rintik hujan: siapa yang lebih cepat membasahi jalanan.
Orang-orang berlari kecil, payung-payung mekar seperti bunga payung di musim hujan, dan kota yang terbentang di antara dua benua itu terasa seperti lukisan air yang sedikit kabur. Namun, di tengah kelam yang menyelimuti, ada sepetak dunia yang menolak untuk ikut redup. Balat. Kawasan kecil di pinggiran Fatih ini seperti percikan warna yang jatuh dari kuas pelukis yang lupa membersihkan paletnya.
Anak tangga dicat pelangi, bendera-bendera kecil Turki berkibar di atas kepala seperti burung-burung kertas yang tak mau terbang pergi, kafe rumahan dan toko barang antik menyambut dengan senyum hangat. Tsaja, kucing-kucing gemas yang berbaring malas di ambang pintu, seolah menjaga rahasia kota ini dengan tatapan malas-malasan.
Balat bukan sekadar warna. Ia adalah mozaik hidup yang terjaga selama berabad-abad. Di sini Muslim, Armenia, Yahudi, dan Yunani pernah berbagi dinding, berbagi sumur, berbagi cerita. Keberagaman itu tidak disimpan dalam bangunan megah seperti Hagia Sophia atau Masjid Biru, melainkan terukir dalam tradisi sederhana: aroma roti hangat, suara ketawa anak kecil, dan meja sarapan yang selalu terlalu penuh untuk satu keluarga saja.
Di salah satu pojok jalan yang paling ramah, berdiri rumah kayu berwarna merah tua dengan papan kecil bertuliskan Velvet Cafe. Begitu pintu dibuka, waktu seolah berhenti sejenak, seperti jarum jam yang tiba-tiba malu bergerak.
Ruangan itu adalah kapsul kenangan: piring-piring vintage bertumpuk rapi, meja-meja ditutupi taplak renda yang sudah usang namun tetap anggun, telepon analog hitam yang tak lagi berdering, dan rak buku klasik yang berdebu lembut. Semuanya seperti set film drama Eropa lama, mungkin Amour, mungkin Sentimental Value, di mana setiap sudut menyimpan cerita yang tak sempat diceritakan.
Yuksel Kukul, pemilik dan jiwa dari kafe ini, menyapa dengan senyum yang seolah tak pernah lelah. Kacamata bulat membingkai wajahnya yang hangat. Ia bercerita bahwa Velvet Cafe lahir pada 2018, bukan semata bisnis, melainkan cara mengenang neneknya. “Kami ingin menghidupkan kembali rumah nenek,” katanya pelan, “karena di situlah akar kami, di situlah cerita keluarga kami dimulai.”
Akar itu tak hanya dari Istanbul. Nenek Yuksel berasal dari Sudan, dan tradisi memasak sudah mengalir dalam darah keluarga ini sejak kakek buyutnya membuka warung makan kecil. Kini, Yuksel, ibunya, dan bibinya melanjutkan warisan itu, bukan dengan resep yang rumit, melainkan dengan kejujuran rasa dan keramahan yang tulus.
Tak lama, Begum, yang disebut Yuksel sebagai soul sister-nya, membawa nampan besar. Piring-piring kecil berjejer rapi: empat jenis keju, dua jenis zaitun, selai manis dan asin, krim, mentega, sayuran segar, telur orak-arik, acar berwarna-warni.
Yuksel menambahkan keranjang roti, bagel, dan pisi hangat, adonan goreng yang renyah di luar, lembut di dalam, mirip cakwe namun lebih beraroma rempah Turki. Semuanya dibuat sendiri, dari bahan yang dipilih langsung dari berbagai penjuru negeri. “Resep ini turun-temurun,” ujarnya, “dan kami ingin setiap suap membawa cerita.”
Saat makanan tersaji, ruangan langsung hangat. Hujan di luar masih rapi mengetuk jendela, tapi di dalam, aroma chai dan kopi Turki bercampur dengan tawa pelan pengunjung. Roti dipadukan dengan hummus yang asam lembut, scrambled egg yang sedikit pedas karena sucuk, selai yang manis membalas asin keju. Setiap suapan seperti pesta kecil: perpaduan rasa yang tak terduga, namun saling melengkapi, seperti orang-orang di Balat yang berbeda namun tetap satu meja.

2 hours ago
2














































