Wani Maler
Edukasi | 2026-02-11 20:51:09
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Sumber gambar: Generate AI
Setiap kali seseorang memperkenalkan diri sebagai arkeolog, hampir selalu ada pertanyaan lanjutan yang sama: “Oh, jadi kamu gali dinosaurus?”
Pertanyaan itu biasanya diucapkan dengan polos. Kadang dengan antusiasme. Kadang dengan keyakinan penuh bahwa itulah definisi arkeologi. Dan yang menarik, kesalahpahaman ini begitu luas sampai-sampai terasa normal.
Lalu kenapa arkeolog selalu dikaitkan dengan dinosaurus?
Jawaban paling sederhana: karena yang lebih terkenal adalah dinosaurusnya, bukan ilmunya.
Film, buku anak-anak, museum populer, dan media televisi membuat dinosaurus menjadi ikon masa lalu. Tulang raksasa, makhluk purba, dan cerita tentang kepunahan terasa lebih spektakuler dibanding pecahan gerabah atau susunan batu. Ketika publik mendengar kata “kuno”, pikiran mereka otomatis melompat ke zaman prasejarah yang sangat jauh. Dan dalam imajinasi populer, yang hidup di sana adalah dinosaurus.
Masalahnya, dinosaurus bukan wilayah arkeologi. Mereka adalah wilayah paleontologi.
Arkeologi mempelajari manusia dan kebudayaannya melalui tinggalan material (Renfrew & Bahn, 2016). Paleontologi mempelajari kehidupan purba sebelum manusia, termasuk dinosaurus, melalui fosil biologis (Benton & Harper, 2009). Perbedaannya sederhana, tapi sering kabur di benak publik: arkeologi berbicara tentang manusia masa lalu, paleontologi berbicara tentang makhluk hidup purba sebelum manusia ada.
Kenapa kebingungan ini terus terjadi?
Karena keduanya sama-sama “menggali”. Sama-sama berurusan dengan tanah, tulang, dan masa lalu. Visualnya mirip. Aktivitasnya terlihat serupa. Dari jauh, orang yang memegang kuas kecil di atas tanah bisa dianggap sedang menggali apapun yang tua.
Media juga jarang membedakan dengan jelas. Dalam banyak tayangan, istilah arkeolog dan paleontolog dipakai secara longgar. Di film atau kartun anak, siapa pun yang menggali tulang besar sering disebut arkeolog. Lama-lama, asosiasi itu tertanam.
Ada juga faktor psikologis. Dinosaurus jauh lebih mudah memikat imajinasi daripada sejarah manusia. Makhluk raksasa, ganas, dan punah karena bencana besar terasa dramatis. Sementara arkeologi sering berurusan dengan hal-hal yang lebih sunyi: pola hunian, sisa makanan, struktur permukiman, atau perubahan teknologi. Tidak ada taring besar, tidak ada cakar, hanya data (Trigger, 2006).
Padahal justru di situlah menariknya arkeologi. Ia berbicara tentang kita. Tentang bagaimana manusia membangun, berpindah, beradaptasi, berkonflik, dan bertahan. Jika paleontologi menjawab pertanyaan tentang kehidupan sebelum manusia, arkeologi menjawab pertanyaan tentang bagaimana manusia menjadi seperti sekarang.
Lalu apakah salah jika orang menyamakan keduanya?
Tidak sepenuhnya. Keduanya sama-sama ilmu tentang masa lalu. Keduanya sama-sama bekerja dengan metode ilmiah. Keduanya sama-sama mengandalkan ekskavasi dan analisis laboratorium. Kebingungan ini lebih karena popularitas dinosaurus yang jauh melampaui popularitas disiplin ilmu yang mempelajarinya.
Mungkin pertanyaan “jadi kamu gali dinosaurus?” tidak perlu disambut dengan kejengkelan. Ia bisa menjadi pintu masuk edukasi. Kesalahpahaman kecil itu membuka ruang untuk menjelaskan bahwa masa lalu tidak hanya tentang makhluk raksasa, tetapi juga tentang manusia biasa yang hidup, bekerja, dan membentuk dunia.
Dinosaurus mungkin lebih spektakuler. Tapi arkeologi lebih personal. Karena yang dipelajari bukan monster purba, melainkan jejak manusia yang membuat kita menjadi siapa kita hari ini.
Referensi
Benton, M. J., & Harper, D. A. T. (2009). Introduction to paleobiology and the fossil record. Wiley-Blackwell.
Renfrew, C., & Bahn, P. (2016). Archaeology: Theories, methods, and practice (7th ed.). Thames & Hudson.
Trigger, B. G. (2006). A history of archaeological thought (2nd ed.). Cambridge University Press.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
4












































