REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- TNI dilaporkan akan mengirim ribuan prajurit ke Gaza, Palestina. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyatakan, TNI AD mulai menyiapkan personel untuk dikirim menjadi bagian pasukan Dewan Perdamaian di wilayah konflik, Gaza, Palestina.
Maruli mengatakan, saat ini proses koordinasi terkait penugasan pasukan perdamaian tersebut masih terus berjalan. Menurut dia, penentuan kebutuhan personel akan ditetapkan setelah adanya Arah resmi dari pihak yang mengkoordinasikan misi di Gaza. Kemudian keputusan itu diteruskan kepada Markas Besar (Mabes) TNI dan Mabes Angkatan Darat (Mabesad).
Nanti ke Mabes TNI, lalu nanti ke Mabes AD, membutuhkan personel yang berkarakter apa, nanti kami siapkan,” jelas Maruli usai menghadiri Rapat Pimpinan TNI-Polri di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (9/2/2025).
Meski lokasi pengugasan belum dipastikan, Maruli memastikan, persiapan awal di internal TNI AD mulai dilakukan. Para personel yang dikhususkan pada karakter pasukan perdamaian, termasuk unsur kesehatan.
Terkait lokasi penugasan, Maruli tekanan, keputusan pengiriman pasukan ke Gaza atau Lebanon tidak berada di tangan TNI AD. “Lebih baik bertanya ke Mabes TNI. Kalau kami hanya penyiapan pasukan saja,” kata mantan Pangkostrad tersebut.
Menurut Maruli, jumlah personel yang disiapkan masih bersifat estimasi dan belum final. Kekuatan pasukan yang disiapkan bisa mencapai satu brigade, yang setara dengan tiga batalyon.
"Bisa satu brigade, 5.000 sampai 8.000 (personel) mungkin. Tapi masih bernego semua, belum pasti. Jadi, belum ada kepastian angka sampai sekarang," ujar Maruli. Dia juga menyampaikan, belum dapat memastikan kapan pasukan pengiriman akan dilakukan.
Sementara, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita menyatakan, personel TNI yang akan dilibatkan dalam rencana partisipasi Indonesia pada misi perdamaian terkait Gaza akan dipilih dari prajurit yang sudah berpengalaman menjalankan penugasan luar negeri.
Menurutnya, TNI telah memiliki rekam jejak mengirim pasukan di bawah misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) sejak 2008 dan telah berkali-kali melakukan rotasi.
“Saya kira kita udah punya pengalaman ya, ada UNIFIL yang pernah ke sana, satuan-satuan yang pernah dikirim ke sana, inilah nanti yang akan kita rekrut,” kata Tandyo saat ditemui awak media di Parlemen, Selasa (10/2/2026).
“Jadi bukan satuan-satuan yang belum pernah tugas ke sana. Kita kalau tidak salah sudah mengirimkan dari tahun 2008 ya, dari 2008 itu kita sudah mengirimkan Unifil ke sana sudah berkali-kali, dan orang-orang inilah nanti yang akan kita kirim ke sana,” katanya menambahkan.
Ia menyebut, prajurit yang sudah pernah bertugas di kawasan tersebut dinilai lebih siap, baik dari sisi pemahaman medan maupun kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat lokal.
“Tentunya dia mempunyai pengalaman dari sisi medan dan bagaimana dia berkomunikasi dengan masyarakat di sana walaupun itu di wilayah Lebanon,” katanya.

2 hours ago
5











































