Film Melania: Kontroversi Sutradara, Absennya Anak-Anak, dan Tiket yang Nggak Laku

5 days ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemutaran perdana film dokumenter Melania digelar pada Kamis (29/1/2026) malam waktu Amerika Serikat di Kennedy Center, Washington D.C. Pemutaran dokumenter tentang Melania Trump ini langsung memantik kontroversi karena menurut laporan Independent, lokasi itu disebut sebagai "Trump-Kennedy Center" pada undangan resminya.

Meskipun dikemas dengan kemewahan luar biasa, ada pemandangan kontras yang menjadi buah bibir, yaitu absennya sebagian besar anak-anak Presiden Donald Trump. Barron Trump, putra Melania yang kini berusia 19 tahun, melewatkan malam besar ibunya tersebut, begitu pula dengan Ivanka Trump dan suaminya, Jared Kushner. Hanya Donald Trump Jr yang tampak hadir mendampingi ayahnya di barisan depan keluarga inti.

Ketiadaan Barron menjadi sorotan tajam karena ia sebenarnya muncul dalam dokumenter tersebut. Namun Melania tetap memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada putranya dalam pidato pembukaan sebelum film diputar.

Di sisi lain, deretan tamu yang hadir justru dipenuhi oleh figur-figur penuh warna dan tokoh administrasi, mulai dari rapper Nicki Minaj, Robert F Kennedy Jr., hingga Dr Phil. Namun, ada satu nama di balik layar yang memicu kecaman luas, yakni sang sutradara, Brett Ratner. Keterlibatan Ratner menandai kembalinya ia ke dunia film setelah kariernya merosot akibat serangkaian tuduhan pelecehan seksual pada 2017.

Melania sendiri secara terbuka membela pilihannya dengan menyebut Ratner sebagai sosok yang paling tepat. "Dia sangat berbakat. Dia adalah yang terbaik, dan dia sangat luar biasa untuk diajak bekerja sama," kata Melania.

Aspek finansial dokumenter ini pun tak luput dari serangan kritik yang sangat tajam. Dilansir laman Al Jazeera pada Jumat (30/1/2026), Amazon MGM dilaporkan membayar hak siar sebesar 40 juta dolar AS (sekitar Rp630 miliar), ditambah biaya promosi sebesar 35 juta dolar AS (sekitar Rp551 miliar) yang sangat masif. Angka fantastis ini dianggap tidak masuk akal oleh banyak analis industri, mengingat prediksi pendapatan di akhir pekan pembukaan hanya berkisar antara 1 juta dolar AS (Rp15,7 miliar) hingga 5 juta dolar AS (Rp78,7 miliar).

Menanggapi kritik soal biaya tersebut, Presiden Trump justru menyerang balik mantan presiden pendahulunya, Barack Obama. "Yah, saya pikir mereka harus pergi dan bertanya kepada Presiden Obama, yang dibayar banyak uang dan belum melakukan apa-apa," kata dia.

Di Afrika Selatan, dokumenter ini secara mendadak ditarik dari peredaran. Berdasarkan laporan The New York Times, distributor lokal Filmfinity membatalkan rilis teater tersebut tanpa merinci alasan spesifiknya. Meski begitu, banyak spekulasi mengaitkannya dengan ketegangan diplomatik antara pemerintah Pretoria dan administrasi Trump.

Read Entire Article
Politics | | | |