REPUBLIKA.CO.ID, Berhenti dari zona nyaman di perusahaan multinasional akibat penyakit autoimun, tak mematikan langkah Junita Riyani (37). Bermodal Rp3 juta, perempuan asal Sumedang ini justru sukses membangun jenama herbal Glaranadi hingga mampu memproduksi 2.000 kantong teh saban hari dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.
Keputusan besar tersebut diambil Junita pada tahun 2020. Di tengah puncak kariernya bekerja di perusahaan ternama seperti Unilever hingga Ninja Express, ia harus menyerah pada kondisi kesehatan yang memaksanya berhenti bekerja demi menjalani pemulihan.
Namun, dari perjuangan melawan sakitnya, Junita justru menemukan peluang bisnis. Ia meracik minuman herbal untuk mengatasi keluhan peradangan atau inflamasi dan insomnia yang ia derita akibat autoimun.
"Racikan itu membantu saya tidur, meredakan inflamasi (peradangan), serta menenangkan pikiran dan emosi. Ternyata cocok di saya. Saat saya coba jual, ternyata minuman kesehatan ini laku. Jadi saya putuskan untuk meneruskannya," ujar Junita menceritakan awal mula jenama Glaranadi terbentuk kepada Republika, Rabu (4/2/2026).
Nama Glaranadi diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti mendalam bagi perjalanan hidupnya. "Filosofinya itu tujuan hati. Itu bahasa sansekerta, cuma dipelesetkan sedikit. Jadi, tujuan hati itu berangkat dari pemikiran setiap manusia memiliki cita-cita, keinginan, dan aspirasi. Kami berharap Glaranadi ini mempermudah sisi kehidupan manusia dalam hal kualitas hidupnya," ungkapnya.
Bisnis yang dimulai dengan modal hanya Rp3 juta hingga Rp5 juta ini berkembang pesat berkat strategi digital yang tepat. Junita mengaku awalnya buta soal pemasaran, namun titik baliknya terjadi saat ia mulai mengoptimalkan platform Shopee.
"Saat itu saya belum tahu cara beriklan. Setelah saya riset dan coba pakai iklan di Shopee, penjualannya langsung naik pesat," ungkap Junita.
Ia bahkan menjaga performa chat hingga 93 persen untuk berkonsultasi langsung dengan konsumen yang memiliki masalah kesehatan serupa.
Kini, operasional Glaranadi tak lagi dilakukan secara manual. Junita telah mengoperasikan tiga mesin pengemas otomatis seharga Rp25 juta per unit yang sudah dimiliki sejak 3 tahun lalu. Dengan mesin tersebut, kapasitas produksinya melonjak hingga 2.000 kantong teh celup herbal per hari.
"Sekarang sebulan bisa terjual sekitar 7.000 sampai 8.000 pieces. Meskipun Januari ini termasuk low season, angkanya masih di kisaran itu. Untuk omzet kotor, ya menyentuh angka Rp100 juta," jelasnya.
Produk racikannya kini sudah mencapai 100 jenis varian produk. Tak hanya menguasai pasar domestik, melalui program ekspor Shopee, produk herbal asal Indonesia ini sudah rutin dikirim ke Singapura dan Malaysia.
Meski sudah sukses dengan teh celup, Junita terus berinovasi. Ia menargetkan pada pertengahan tahun ini Glaranadi akan merambah pasar minuman bubuk.
"Tahun ini kami fokus mengurus sertifikasi Halal dan BPOM agar bisa masuk ke jaringan distribusi yang lebih luas seperti supermarket. Kami mulai secara bertahap dari Hero SKU (produk paling laku) terlebih dahulu," katanya.

1 hour ago
2














































