Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden AS Donald Trump dalam penentanganan Perjanjian Abraham pada 2020 di Gedung Putih, AS.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan kian dekat dengan perang besar di Timur Tengah yang dimulai dengan menyerang Iran. Operasi militer yang akan dilancarkan AS bersama Israel ke Iran juga disebut akan menjadi operasi besar-besaran selama berminggu-minggu .
Media AS Axios mengutip sejumlah sumber bahwa serangan ke Iran kemungkinan merupakan kampanye gabungan AS-Israel yang cakupannya jauh lebih luas dibandingkan perang 12 hari yang dipimpin Israel pada Juni lalu. Kala itu AS hanya ikut secara terbatas menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran.
Perang seperti ini akan mempunyai pengaruh yang dramatis terhadap seluruh kawasan dan implikasi besar terhadap sisa tiga tahun masa kepemimpinan Trump. Dengan perhatian Kongres dan masyarakat yang teralihkan, hanya ada sedikit perdebatan publik di AS mengenai intervensi militer di Timur Tengah.
Trump nyaris menyerang Iran pada awal Januari atas unjuk rasa berdarah yang mengguncang negara tersebut. Namun ketika peluang tersebut berlalu, pemerintah AS beralih ke pendekatan dua jalur: perundingan nuklir yang dibarengi dengan peningkatan kekuatan militer secara besar-besaran.
Dengan menunda dan menerapkan begitu banyak kekuatan, Trump telah meningkatkan ekspektasi mengenai seperti apa operasi yang akan dilakukan jika kesepakatan tidak dapat dicapai.
Penasihat Trump Jared Kushner dan Steve Witkoff bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama tiga jam di Jenewa pada Selasa. Meskipun kedua belah pihak mengatakan perundingan tersebut “menghasilkan kemajuan,” kesenjangan yang ada masih besar dan para pejabat AS tidak optimis untuk menyelesaikannya.
Wakil Presiden Vance mengatakan kepada Fox News bahwa perundingan itu "berjalan dengan baik" dalam beberapa hal. Namun "di sisi lain sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa batasan yang belum mau diakui dan diselesaikan oleh Iran."
Vance menjelaskan bahwa meskipun Trump menginginkan kesepakatan, dia dapat menentukan bahwa diplomasi telah “mencapai tujuan alaminya.”
Sejauh ini, armada Trump di Timur Tengah telah berkembang hingga mencakup dua kapal induk, puluhan kapal perang, ratusan jet tempur, dan beberapa sistem pertahanan udara. Beberapa dari senjata itu masih dalam perjalanan.
Lebih dari 150 penerbangan kargo militer AS telah memindahkan sistem persenjataan dan amunisi ke Timur Tengah. Hanya dalam 24 jam terakhir, 50 jet tempur lainnya yakni F-35, F-22 dan F-16 telah menuju ke wilayah tersebut.

2 hours ago
4















































