Masuk Industri Wisata Cuma Modal 'Hobi Traveling', Bakal Survive atau Malah Burnout?

3 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Industri pariwisata saat ini tengah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Hampir setiap minggu muncul destinasi baru yang viral dan menarik perhatian masyarakat untuk segera merencanakan perjalanan.

Namun, di balik tampilan media sosial yang terlihat menyenangkan dan estetis, realitas di lapangan jauh lebih menantang. Standar kerja semakin tinggi, persaingan kian ketat, dan individu dengan keterampilan yang belum memadai berisiko tertinggal.

Banyak orang tertarik memasuki industri ini, tetapi belum tentu memiliki kesiapan dan kompetensi yang diperlukan untuk bertahan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah sektor pariwisata benar-benar merupakan peluang emas, atau justru menjadi tantangan besar bagi mereka yang belum siap?

Tidak jarang muncul anggapan bahwa kegemaran bepergian sudah cukup sebagai bekal untuk berkarier di bidang pariwisata. Padahal, kenyataannya industri ini menuntut lebih dari sekadar hobi.

Diperlukan kemampuan adaptasi yang cepat, pemahaman mendalam mengenai dinamika industri, serta mental yang tangguh dalam menghadapi perubahan. Oleh karena itu, wajar apabila banyak pihak mempertimbangkan kembali langkah mereka—apakah akan menekuni sektor ini secara profesional atau memilih menjadi penikmat dari luar saja.

Wisatanya Estetik, Kerjanya Hardcore: Peluang Emas atau Jebakan?

Lonjakan wisata bukan cuma bikin destinasi penuh, tapi juga bikin persaingan makin ketat. Industri pariwisata sekarang jalan bareng tren digital, sustainability, dan experience-based tourism. Pelaku industri tidak cuma mencari orang yang ramah dan suka jalan-jalan, tapi juga yang paham strategi, data, dan perilaku wisatawan. Mereka pengen orang yang bisa mikir cepat, ambil keputusan, dan memberikan pengalaman yang berkesan.

Di sisi lain, banyak yang masuk tanpa gambaran jelas soal realita lapangan. Ekspektasi ketemu kenyataan sering bentrok. Jam kerja fleksibel tapi padat, tuntutan kreativitas datang terus, dan tekanan target nggak bisa dihindari. Tanpa bekal yang tepat, semangat bisa cepat habis bahkan sebelum karier mulai naik.

Makanya, pariwisata hari ini bukan soal ikut tren, tapi soal kesiapan. Mereka yang paham arah industri bakal melangkah lebih stabil dibanding yang cuma modal nekat. Di titik ini, pendidikan dan lingkungan belajar mulai punya peran penting buat nentuin siapa yang bertahan dan siapa yang gugur di tengah jalan.

Read Entire Article
Politics | | | |