Respons Perbedaan Awal Ramadhan, Buya Anwar Singgung Toleransi Empat Imam Mazhab

3 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas meminta umat untuk mengedepankan toleransi soal perbedaan awal Ramadhan antara pemerintah dengan organisasi keagamaan Muhammadiyah. Diketahui, Muhammadiyah memutuskan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2/2026), sementara pemerintah pada Kamis (19/2/2026).

“Perbedaan bukanlah bencana atau malapetaka, melainkan rahmat. Karena itu, tidak sepatutnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan apalagi memecah belah umat,” ujar Anwar Abbas saat dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu.

Buya Anwar menjelaskan umat Islam memiliki tradisi panjang dalam menyikapi perbedaan pendapat, sebagaimana dicontohkan oleh empat imam mazhab besar yang menjadi rujukan kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Perbedaan pandangan dalam Islam bukanlah hal baru, melainkan bagian dari dinamika ijtihad yang telah berlangsung sejak masa para ulama terdahulu.

Empat imam mazhab yang dikenal luas, yakni Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Muhammad ibn Idris al-Syafi'i, dan Ahmad ibn Hanbal, memiliki corak pemikiran dan metode istinbat hukum yang berbeda-beda sehingga melahirkan mazhab-mazhab fikih.

Pengikut mazhab Hanafi banyak tersebar di Asia Selatan dan Turki, mazhab Syafi’i berkembang di Asia Tenggara dan Yaman, mazhab Maliki dominan di Afrika Utara, sedangkan mazhab Hambali banyak diikuti di Arab Saudi.

Menurut Anwar Abbas, para imam tersebut hidup pada rentang waktu yang saling berdekatan. Imam Abu Hanifah (wafat 150 H) sezaman dengan Imam Malik (wafat 179 H). Imam Malik kemudian menjadi guru Imam Syafi’i (wafat 204 H), yang selanjutnya menjadi guru Imam Hambal (wafat 241 H).

“Mereka adalah ulama yang alim dan sangat berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan agama Islam. Meski berbeda pendapat dalam banyak persoalan fikih, mereka tetap saling menghormati dan tidak memaksakan pandangannya,” ujarnya.

Ia mencontohkan Imam Syafi’i berpendapat membaca qunut saat shalat Subuh, sementara Imam Abu Hanifah tidak. Namun ketika Imam Syafi’i berziarah ke makam Imam Abu Hanifah di Baghdad, ia tidak membaca qunut sebagai bentuk penghormatan.

Sikap serupa juga ditunjukkan Imam Hambali yang kerap berbeda pandangan dengan Imam Syafi’i, tetapi tetap mendoakan gurunya tersebut dalam shalatnya selama puluhan tahun.

Anwar Abbas menilai keteladanan tersebut relevan dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah, di mana sebagian umat memulai puasa pada Rabu dan sebagian lainnya pada Kamis.

Perbedaan itu, menurut dia, muncul dari penggunaan dua metode yang sama-sama memiliki dasar syar’i, yakni hisab dan rukyat. Ia mengajak umat Islam untuk mengedepankan sikap tasamuh atau toleransi serta menjaga ukhuwah Islamiyah demi memperkuat persatuan dan kesatuan.

“Dengan semangat saling menghormati, umat Islam diharapkan mampu menjaga ketertiban sosial dan membangun persatuan yang kokoh di tengah keberagaman pandangan,” ujar dia.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |