REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan akses, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir membawa harapan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia Timur. Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan bahwa intervensi gizi sederhana ini ternyata mampu mengubah wajah pembelajaran secara signifikan.
Berdasarkan evaluasi implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dilakukan pada periode Mei–Juni 2025 hingga November–Desember 2025, sekolah-sekolah yang menerima program MBG mencatatkan rata-rata penurunan gangguan belajar akibat rasa lapar sebesar 2,37 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum menerima program. Yang lebih mencengangkan, di wilayah Indonesia Timur, angkanya melonjak hingga 14,85 poin persentase.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada ribuan anak yang kini bisa duduk tenang di bangku sekolah tanpa perut keroncongan, ribuan guru yang mengajar tanpa harus melihat muridnya lemas karena lapar, dan ribuan orangtua yang sedikit lega karena urusan perut anaknya terjamin saat di sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyebut program ini sebagai investasi jangka panjang. "Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental," ujarnya.
Evaluasi yang melibatkan sekitar 1,2 juta responden murid secara nasional ini dilakukan dengan pendekatan systematic sampling untuk memastikan hasil yang akurat. Kepala Pusat Penguatan Karakter Rusprita Putri Utami menjelaskan, sekolah pelaksana MBG dipilih secara acak dan dipadankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan jenjang, wilayah, dan jumlah murid yang relatif sama. "Kondisi awal data hampir identik dan dapat dibandingkan," katanya.
Bukti ilmiah tentang manfaat MBG ini selaras dengan langkah konkret yang tengah disiapkan di tanah Papua. Kapolda Papua Tengah Kombes Jeremias Rontini menegaskan, pihaknya menargetkan program MBG mulai beroperasi di dua dari delapan Polres di wilayah hukum Polda Papua Tengah pada tahun ini.
"Ditargetkan ada lima titik di dua Polres yang akan melaksanakan Program MBG," kata Kombes Jeremias Rontini di Jayapura, Rabu. Dua wilayah yang menjadi percontohan adalah Polres Nabire dan Polres Mimika.
Menariknya, program ini tidak akan dilaksanakan secara serampangan. Penentuan titik pelaksanaan akan melibatkan koordinasi antara Polsek dan Polres setempat. Sekolah-sekolah yang menjadi sasaran adalah mereka yang masuk dalam kategori wilayah 3T, tertinggal, terdepan, dan terluar.
Pengalaman sebelumnya di wilayah Polda Papua menjadi modal berharga. "Mudah-mudahan Program MBG dapat segera dilaksanakan sehingga para pelajar dapat menikmati MBG," kata Kombes Jeremias Rontini penuh harap.
Sementara itu, di Kabupaten Mimika, persiapan bahkan sudah berlangsung lebih matang. Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menggelar rapat evaluasi bersama perwakilan Badan Gizi Nasional Provinsi Papua Tengah, TNI-Polri, Kejaksaan Negeri Timika, dan Tim Penggerak PKK.
sumber : Antara

2 hours ago
4















































