Suasana Khusyuk Tarawih Perdana Ramadhan 1447 H Padati Masjid di Jakarta dan Semarang

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suasana khusyuk menyelimuti malam tarawih perdana Ramadhan 1447 H di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah, kompleks Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

Sekitar 500 jamaah memadati masjid tersebut pada Selasa malam (18/2/2026), menunaikan shalat tarawih yang dipimpin Imam Muhammad Malikus Sholeh Al Hafidz, sementara tausiyah disampaikan Karnadi Hasan, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang sekaligus Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jateng.

Dalam ceramahnya, Karnadi menegaskan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk membentuk insan bertakwa, sebagaimana diamanatkan dalam QS Al-Baqarah ayat 183–185. “Puasa bukan sekadar ibadah fisik, melainkan proses pendidikan spiritual yang menumbuhkan kesadaran, empati, dan kedewasaan iman,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan makna dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu neraka sebagai keluasan rahmat Allah SWT yang membuka peluang kebaikan seluas-luasnya bagi umat manusia. Shalat tarawih berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan, diakhiri doa penutup yang menggema sebagai harapan bersama agar bulan suci ini menjadi jalan peningkatan iman dan kualitas kemanusiaan.

Pelaksanaan tarawih tersebut mengikuti keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab. Sementara Pemerintah melalui Sidang Isbat Kementerian Agama menetapkan awal Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026 berdasarkan hisab astronomis dan rukyatul hilal. Perbedaan ini menjadi cerminan dinamika ijtihad dalam khazanah Islam Indonesia, bukan sebagai pemisah, melainkan ruang harmonisasi untuk saling menghormati.

Di Jakarta Pusat, jamaah dari berbagai kota berbondong-bondong memadati Masjid Istiqlal untuk shalat tarawih perdana pada Rabu (18/2). Seorang ibu bernama Lestari (48) asal Depok, Jawa Barat, mengaku senang dengan fasilitas masjid yang terus diperbarui, mulai dari toilet nyaman, kamar mandi musafir, hingga ruang i’tikaf menjelang Idul Fitri.

Ia datang bersama ketiga anak perempuannya menggunakan KRL, merasakan akses yang semakin mudah. “Tadi turun di stasiun Juanda, enak tinggal jalan. Mau ngajarin anak-anak biar rajin ibadah selama Ramadhan. Pengin ngerasain tarawih pertama di Istiqlal gimana,” katanya.

Lestari juga mengapresiasi penyediaan buka puasa gratis di Masjid Istiqlal. “Besok-besok mau coba juga buka puasa gratis di sini, kan lumayan,” ujarnya. Namun ia berharap ada fasilitas khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas, seperti kursi roda atau petugas pendamping, karena jarak dari tempat wudhu ke area shalat terasa cukup jauh meski sudah ada lift.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |