REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dua pembalap Indonesia, Julian Johan dan Shammie Zacky Baridwan, mencatatkan sejarah di ajang reli paling bergengsi dunia Reli Dakar 2026 di Arab Saudi pada 3–17 Januari 2026. Keduanya berhasil menuntaskan seluruh 13 etape dan mencapai garis finis pada kategori Dakar Classic.
Julian Johan, yang dikenal dengan julukan Jejelogy, tampil impresif dengan mengandalkan Toyota Land Cruiser 100. Bersama navigator asal Prancis, Mathieu Monplaisir, ia tak hanya menyelesaikan reli ekstrem tersebut, tetapi juga menembus lima besar klasemen akhir Dakar Classic. Bahkan, Jeje menjadi pembalap Indonesia pertama yang menjuarai kelas Iconic Classic Club.
Dlam perbincangan dengan Republika.co.id pada Senin (10/2/2026), Jeje mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapinya. Salah satunya yang terbesar adalah kemampuan membaca medan gurun pasir. Menurutnya, mengenali karakter pasir menjadi kunci utama agar kendaraan tidak terjebak.
“Di gurun pasir itu yang paling penting adalah bisa membaca mana pasir yang padat dan mana yang lembek. Itu bisa dilihat dari warna, tekstur, bentuk permukaan, sampai arah angin,” ujar Jeje.
Ia menjelaskan, sisi bukit pasir yang terdorong angin umumnya lebih keras dibandingkan sisi sebaliknya. Pemahaman tersebut menentukan jalur mana yang aman untuk didaki.
Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Disorientasi menjadi ancaman serius di hamparan gurun luas yang tampak seragam ke segala arah.
“Kalau kita berada di gurun yang sejauh mata memandang semuanya sama, kita bisa tiba-tiba kehilangan arah. Salah satu patokan kami adalah posisi matahari untuk mengetahui sedang mengarah ke mana,” kata Jeje.
Menariknya, Jeje juga memanfaatkan petunjuk alami yang unik. Jejak dan kotoran unta menjadi indikator penting dalam memilih lintasan yang lebih aman.
“Kalau ada jejak atau kotoran unta, itu berarti pasirnya lebih padat. Unta punya naluri membaca jalur, dan itu jadi ilmu yang sangat menarik buat saya,” ungkapnya.
Sebagai pembalap asal Indonesia yang minim pengalaman mengemudi di gurun pasir, Jejelogy menyadari pentingnya persiapan khusus. Karena itu, ia memilih berlatih langsung di lingkungan serupa sebelum tampil di Reli Dakar.
“Karena di Indonesia tidak ada gurun pasir, saya berangkat ke Maroko pada September 2025 untuk belajar teknik nyetir di gurun. Latihan itu sangat bermanfaat, setidaknya saya sudah punya bekal dasar,” tuturnya.

3 hours ago
4















































