REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH - Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinannya dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah global melalui partisipasi aktif pada Al-Baraka Symposium for Islamic Economics ke-46. Forum internasional tersebut berlangsung di Gedung Muallim Mohammad Bin Laden, Universitas Prince Mugrin, Madinah Munawwarah, pada 9–11 Februari 2026.
Assoc. Prof. Dr. Sutan Emir Hidayat, selaku Direktur Infrastruktur Ekosistem Ekonomi Syariah KNEKS dan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menjadi pembicara pada sesi ketiga bertajuk Charity and Investment Channels: Charitable Investment within the Framework of Shari'a Discipline.
Dalam presentasinya, Sutan Emir Hidayat memaparkan pengalaman Indonesia dalam pengelolaan dana haji melalui Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yang telah mentransformasi sistem pengelolaan dana haji dari model konvensional berbasis biro perjalanan menjadi kerangka investasi profesional yang sepenuhnya patuh syariah. Paper yang dipresentasikan menganalisis perjalanan transformatif pengelolaan dana haji Indonesia dari periode awal hingga era kontemporer di bawah BPKH.
Berdasarkan data periode 2019-2025, BPKH telah berhasil mengelola dana sebesar kurang lebih Rp 173,9 triliun (data per September 2025) dengan imbal hasil investasi yang konsisten rata-rata 6-7 persen per tahun. Pencapaian ini menunjukkan kemampuan BPKH dalam mengoptimalkan pengelolaan dana umat dengan prinsip kehati-hatian, kepatuhan syariah, dan transparansi.
Salah satu inovasi Indonesia yang menjadi sorotan dalam presentasi adalah mekanisme Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS). Model ini mengintegrasikan keuangan sosial dan komersial Islam untuk mendukung pengelolaan dana haji dan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur publik. CWLS telah mendapatkan pengakuan internasional dengan meraih IsDB Prize for Impactful Achievement in Islamic Economics tahun 2023, membuktikan bahwa Indonesia mampu menghadirkan solusi inovatif yang berdampak luas bagi kesejahteraan umat.
"Pengelolaan dana haji bukan sekadar urusan administratif, tetapi merupakan amanah besar yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan produktif untuk kemaslahatan umat," ujar Sutan Emir Hidayat.
Dia mengatakan Indonesia terus berinovasi untuk memastikan bahwa dana haji tidak hanya tersimpan dengan aman, tetapi juga berkembang dan memberikan manfaat optimal bagi jamaah haji dan pembangunan ekonomi syariah nasional.
Pengembangan Pengelolaan Dana Haji Indonesia
Paper yang dipresentasikan mengajukan lima rekomendasi strategis untuk pengembangan pengelolaan dana haji Indonesia ke depan. Pertama, diversifikasi portofolio dengan meningkatkan alokasi pada investasi ekuitas dan infrastruktur yang patuh syariah.
Kedua, integrasi wakaf melalui pengembangan program Wakaf Haji untuk memberikan subsidi bagi jamaah haji berpendapatan rendah. Ketiga, peningkatan efisiensi operasional untuk menekan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).
Keempat, perluasan program akselerasi untuk mempercepat keberangkatan melalui jalur haji non-reguler. Kelima, peningkatan transparansi digital untuk memudahkan akses informasi imbal hasil investasi dan status daftar tunggu.
Al-Baraka Symposium for Islamic Economics merupakan forum internasional bergengsi yang mempertemukan para pakar ekonomi syariah dari berbagai belahan dunia untuk mendiskusikan masa depan ekonomi dan keuangan Islam. Pada edisi ke-46 ini, diskusi berfokus pada optimalisasi instrumen sosial keagamaan untuk pembangunan ekonomi modern, termasuk investasi dana wakaf, optimalisasi zakat untuk investasi produktif, dan pengelolaan dana tabungan haji.
Partisipasi KNEKS dalam forum internasional ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk menjadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia, dalam mendukung visi Menuju Indonesia Emas 2045. Saat ini Indonesia telah mencapai peringkat ketiga berdasarkan Global Islamic Economy Indikator (SGIE) Report 2024/2025, dengan peningkatan signifikan dalam 7 tahun, yaitu dari posisi ke-11 pada tahun 2018.
Indonesia juga merupakan pemegang saham terbesar ketiga di Islamic Development Bank (IsDB). Indonesia telah meraih berbagai pencapaian di sektor ekonomi syariah, termasuk peringkat kedua dalam Islamic Finance, pertama dalam Modest Fashion, dan kelima dalam Global Muslim Travel Index 2025.
Kehadiran Indonesia di Al-Baraka Symposium mempertegas komitmen pemerintah dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Gibran, Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah (RPJMN) 2025-2026, serta Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (MEKSI) 2025-2029.

2 hours ago
5















































